Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Kebijakan kenaikan cukai tembakau di Australia menghadapi tantangan serius setelah perdagangan rokok ilegal berkembang pesat dan diduga menjadi sumber pendapatan besar bagi jaringan kejahatan terorganisasi. Kondisi ini memunculkan dilema kebijakan publik antara menekan konsumsi rokok, menjaga penerimaan negara, dan mencegah meluasnya pasar gelap.
Harga rokok legal di Australia telah meningkat tiga kali lipat sejak Desember 2016. Porsi cukai yang mencapai lebih dari 70% harga eceran membuat sebungkus rokok legal dijual hampir A$60 atau sekitar US$42. Sementara itu, rokok impor ilegal tersedia dengan harga sekitar seperlima dari produk legal.
Baca Juga: Ekonomi ASEAN Terancam, US$ 13,1 Miliar Pajak Hilang Akibat Rokok Ilegal
Kesenjangan harga tersebut mendorong kekhawatiran mengenai peralihan konsumen ke produk ilegal. Regulator tembakau Australia memperkirakan rokok ilegal menguasai sekitar 55% pasar rokok pada 2025, meskipun jumlah perokok di negara itu diperkirakan mencapai 1,3 juta orang.
Profesor kriminologi Australia James Martin memperkirakan masyarakat Australia menghabiskan A$8,5 miliar atau sekitar US$6,1 miliar setiap tahun untuk membeli rokok ilegal dan produk vape. Nilai itu bahkan dua kali lipat dari total pengeluaran untuk ganja, kokain, ekstasi, dan heroin.
“Perkembangan tersebut telah mengubah struktur industri tembakau di Australia. Saya melihat jaringan kejahatan terorganisasi kini menjadi pemain utama dalam perdagangan tembakau illegal,” ujarnya seperti dilansir Financial Times yang dikutip, Selasa (20/10/2026).
Dampaknya juga terlihat pada penerimaan negara. Pendapatan Australia dari cukai tembakau dan bea masuk mencapai puncak A$16 miliar pada 2020, sebelum turun lebih dari separuh pada 2025. Kementerian Keuangan Australia memperkirakan penerimaan tersebut berpotensi merosot hingga sekitar A$2 miliar pada 2030.
Di sisi kesehatan masyarakat, tingkat merokok memang menunjukkan penurunan. Persentase penduduk berusia 14 tahun ke atas yang merokok turun menjadi 5,6% pada 2025, dibandingkan 8,3% dua tahun sebelumnya. Namun, analisis air limbah yang dirujuk Biro Statistik Australia menunjukkan konsumsi nikotin meningkat hampir 40% selama periode 2017–2025.
Biro tersebut juga memperkirakan produk tembakau ilegal menguasai sekitar 80% pasar pada 2025, naik dari 12% pada 2017. Angka ini memiliki cakupan berbeda dari estimasi 55% yang khusus mengukur pangsa rokok ilegal. Sementara itu, produk vape ilegal diperkirakan menguasai 96% nilai pasar dalam segmen tersebut.
Perkembangan itu memicu perdebatan mengenai efektivitas kenaikan cukai berulang kali. Harga tinggi dapat mendorong masyarakat mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok, tetapi selisih harga yang lebar juga berpotensi membuat produk ilegal semakin menarik bagi konsumen yang sensitif terhadap harga.
Laporan Senat Australia mengenai pasar tembakau ilegal yang diterbitkan pada Agustus 2026 merekomendasikan penghentian sementara kenaikan cukai dan penurunan pajak tembakau secara signifikan. Partai Liberal dan One Nation turut menyerukan pemangkasan pajak untuk mempersempit kesenjangan harga. Namun, rekomendasi Senat tersebut tidak mengikat pemerintah.
Menteri Kesehatan Australia Mark Butler menegaskan pemerintah tidak ingin mengambil langkah yang mengabaikan dampak terhadap kesehatan masyarakat dan kejahatan terorganisasi. Pemerintah menghadapi tantangan untuk menekan konsumsi tembakau sekaligus membatasi keuntungan yang mengalir ke jaringan perdagangan ilegal.
Persoalan tersebut semakin kompleks karena perdagangan rokok ilegal tidak lagi terbatas pada jalur impor dan toko konvensional. Produk ilegal kini dipasarkan melalui internet, lapak sementara di area parkir, serta berbagai tempat usaha yang tidak lazim menjual tembakau, termasuk barbershop dan toko buah.
Sejak 2024, pemerintah Australia telah mengalokasikan A$365 juta untuk memberantas pasar gelap, termasuk memutus rantai pasokan dan menindak peritel yang menjual produk ilegal. Pada September 2026, Australian Border Force mengumumkan penyitaan 60 juta batang rokok senilai A$92 juta yang dikirim dari Shanghai ke Sydney melalui kerja sama dengan otoritas China.
Meski demikian, perdagangan ilegal juga menimbulkan persoalan keamanan. Persaingan antarkelompok dilaporkan memicu pembakaran, pemerasan, perampokan, dan bentrokan di Melbourne serta Sydney. Laporan Senat mengaitkan tiga kematian dengan kekerasan yang berhubungan dengan konflik di pasar tembakau ilegal, termasuk kematian seorang perempuan berusia 27 tahun akibat kebakaran setelah rumah tempatnya tinggal diserang.
Ekonom Chris Richardson menilai Australia kesulitan mencapai tiga sasaran sekaligus, yakni meningkatkan kesehatan masyarakat, mempertahankan penerimaan negara, dan mencegah perdagangan tembakau menjadi sumber keuntungan kejahatan terorganisasi.
Pengalaman Australia memperlihatkan kebijakan cukai tembakau tidak hanya berkaitan dengan harga dan konsumsi, tetapi juga menyangkut efektivitas pengawasan, penerimaan fiskal, serta penegakan hukum. Penurunan angka merokok menjadi salah satu indikator positif, tetapi pertumbuhan pasar ilegal dan kemerosotan penerimaan cukai menambah dimensi persoalan yang perlu diperhitungkan dalam perumusan kebijakan pengendalian tembakau.














