kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.537.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.189   15,00   0,08%
  • IDX 4.920   15,48   0,32%
  • KOMPAS100 632   2,75   0,44%
  • LQ45 501   3,97   0,80%
  • ISSI 163   -0,60   -0,36%
  • IDX30 283   2,68   0,96%
  • IDXHIDIV20 382   4,30   1,14%
  • IDX80 73   0,29   0,40%
  • IDXV30 106   0,87   0,82%
  • IDXQ30 95   1,13   1,20%

Penjualan Hybrid Menguat, Toyota Berpeluang Cetak Kenaikan Laba


Rabu, 04 November 2026 / 16:36 WIB
Penjualan Hybrid Menguat, Toyota Berpeluang Cetak Kenaikan Laba
ILUSTRASI. Toyota Uji New Land Cruiser 300 Hybrid EV di Gumuk Pasir Yogyakarta (KONTAN/Hendra Suhara)


Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID – TOKYO. Toyota Motor Corp diperkirakan mulai membalikkan tekanan laba setelah enam kuartal berturut-turut mengalami penurunan kinerja. Pelemahan yen dan meningkatnya permintaan kendaraan hybrid menjadi penopang utama produsen otomotif asal Jepang tersebut, meski penjualan di China dan Timur Tengah masih lesu.

Toyota juga berpeluang meningkatkan laba karena perusahaan tidak lagi menanggung beban biaya tarif impor Amerika Serikat (AS) seperti yang menekan kinerja pada periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan median estimasi sembilan analis yang disurvei LSEG, Toyota diperkirakan mencetak laba operasional sebesar 992 miliar yen atau sekitar US$ 6,3 miliar pada kuartal III-2026. Angka tersebut melonjak 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan perusahaan diproyeksikan tumbuh 8% menjadi 13,4 triliun yen.

Namun, Toyota masih menghadapi tekanan penjualan di sejumlah pasar utama. Sepanjang Juli-September 2026, perusahaan menjual sedikit di atas 2,5 juta unit kendaraan Toyota dan Lexus secara global, turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

China menjadi pasar dengan penurunan penjualan terdalam. Penjualan Toyota di negara tersebut merosot 22%, sedangkan di Timur Tengah anjlok sekitar sepertiga.

Sebaliknya, Toyota berhasil menggenjot penjualan kendaraan elektrifikasi di Amerika Utara. Penjualan kendaraan jenis ini, yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi, melonjak lebih dari 30% menjadi hampir 430.000 unit. Meski begitu, total penjualan Toyota di AS hanya tumbuh kurang dari 1%.

Analis Marusan Securities Yuya Takahashi menilai kenaikan harga bensin mendorong konsumen mencari kendaraan hybrid yang lebih hemat bahan bakar. Kondisi ini membuka peluang bagi Toyota untuk meningkatkan penjualan kendaraan dengan margin keuntungan lebih besar.

"Seiring kenaikan harga bensin, permintaan terhadap kendaraan hybrid yang lebih hemat bahan bakar meningkat. Hal yang penting adalah seberapa banyak kendaraan hybrid dengan margin keuntungan lebih tinggi yang dapat dijual," ujarnya dalam laporan Reuters (4/11/2026).

Meski begitu, Toyota masih harus menghadapi persaingan ketat di China, pasar otomotif terbesar di dunia. Produsen otomotif lokal terus memperkuat posisinya seiring peralihan konsumen menuju kendaraan listrik (EV). Persaingan ini mengancam daya saing Toyota yang masih mengandalkan mobil bermesin bensin dan hybrid.

Tekanan pasar China juga mulai memukul kinerja pemasok komponen otomotif. Pekan lalu, Denso melaporkan penurunan laba operasional lebih dari sepertiga di kawasan Asia selama enam bulan hingga September 2026. Melemahnya penjualan kendaraan di China dan meningkatnya biaya bahan baku menekan kinerja perusahaan tersebut.

Di luar persoalan penjualan, investor juga mencermati langkah Toyota memperbesar investasi di bidang otomatisasi pabrik, perangkat lunak kendaraan, dan teknologi berkendara otonom.

Toyota memperkirakan membutuhkan dana hingga 1 triliun yen per tahun mulai 2028 untuk memodernisasi fasilitas produksinya. Perusahaan akan mengalokasikan investasi tersebut untuk mempercepat penggunaan otomatisasi dan robotika sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×