Sumber: AP |
NEW YORK. Setelah anteng selama musim dingin, para pembeli kemungkinan akan keluar dari "persembunyiannya" untuk kembali memborong kebutuhan dapurnya.
Kamis (6/3) kemarin, peritel AS merilis sejumlah angka yang menunjukkan bahwa penjualan ritel terus merosot pada bulan Februari, tapi tak sebanyak Januari. Kemungkinan, hal ini mengindikasikan bahwa bisnis sudah mulai stabil. Namun, analis juga kembali menegaskan bahwa ini belum bisa dibilang sebagai awal dari pemulihan.
Melegakannya laporan dari industri ritel kemarin lantaran baiknya kontrol persediaan dari Wal-Mart. Apalagi, peritel raksasa ini telah menyurung orang untuk terus berbelanja ke gerai yang memiliki harga lebih terjangkau.
Menurut ekonom, bursa tenaga kerja harus pulih terlebih dahulu sebelum para shopper ini merasa "nyaman" untuk merasa leluasa berbelanja.
"Kami melihat sinyal bahwa pembelanjaan sudah mulai dilakukan lagi," kata Frank Badillo, Senior Economist untuk Consulting Group Retail Forward. Ada begitu banyak isi dapur, imbuh Badilo, yang perlu untuk distok lagi dalam waktu cepat.
Ken Perkins, President of Research Company RetailMetrics LLC, mengatakan, kondisi ritel saat ini masih buruk, namun Wal-Mart telah berusaha menjinakkan kemerosotan ini.
Data International Council of Shopping Centers and Goldman Sachs menunjukkan bahwa penjualan di sejumlah gerai yang dibuka setidaknya setahun terakhir ini, yang kemudian dikenal sebagai same-store sales, turun 0,1% di bulan Februari. Angka ini jauh lebih kecil dari 1-2% kemerosotan yang telah diperkirakan semula.
Hanya saja, penurunan tersebut sudah menunjukkan peningkatan dari bulan Januari yang penjualan ritelnya anjlok sebesar 1,6%.
Wal-Mart Stores Inc., yang angka penjualannya mencatatkan lebih dari separo ICSC index, telah memberi sinyal positif. Di luar Wal-Mart, same-store sales masih tergerus, anjlok 4,3% di bulan Februari, namun masih lebih bagus ketimbang Januari yang kemerosotannya mencapai 4,8%.













