kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%

Perubahan iklim picu panas mematikan di Timteng


Rabu, 28 Oktober 2015 / 12:04 WIB


Sumber: money.cnn | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

ZURICH. Berdasarkan riset yang dipublikasikan oleh Nature Climate Change, perubahan iklim dapat menyebabkan sejumlah kawasan di Timur Tengah akan mengalami cuaca terpanas yang dirasakan manusia untuk bertahan hidup.

"Kombinasi dari temperatur tinggi dan kelembaban dapat menyebabkan kondisi ekstrem di kawasan Teluk Persia yang tidak dapat ditolerir oleh manusia, jika perubahan iklim ini terus berlanjut," tulis Christopher Schar dari Institute for Atmospheric and Climate Science di Zurich, Swiss.

Schar juga menulis temperatur di kawasan tersebut diproyeksi akan mencapai level di luar batas wajar. Beberapa di antaranya yakni Kuwait City dan sejumlah bagian lain di Timur Tengah.

"Ancaman atas kesehatan manusia diprediksi akan lebih buruk dari prediksi semula," jelasnya.

Jeremy S. Pal dari Loyola Marymount University di Los Angeles dan Elfaith AB Eltahir dari Massachussetts Institute of Technology juga menulis riset mengenai perubahan iklim. Dalam laporannya, mereka menulis, masa depan Timteng terbilang suram.

Mereka bilang, kombinasi antara panas dan kelembaban dapat mendongkrak temperatur ke level rekor di atas 140 derajat Fahrenheit di sejumlah 'hotspot" seperti Kuwait City, Al Ain di Uni Emirat Arab, dan Doha di Qatar.

Sebagai perbandingan saja, temperatur tertinggi di Kuwait City secara normal mencapai 116. Rekor tertinggi saat ini ditoreh oleh Libya yakni 136 derajat, atau Death Valley, California, yang mencapai 134.

Sang penulis mengatakan, warga di kawasan yang terkena dampak di Timteng akan berlindung ke gedung-gedung yang memiliki air conditioner. Namun, warga di negara miskin -seperti Yaman- harus menerima nasibnya yakni bertahan di cuaca panas atau menyerah dengan keadaan.

Dituliskan pula, aktivitas luar ruangan akan terkena dampak serius akibat cuaca ekstrem ini, termasuk pelaksanaan ibadah haji di Mekkah.

"Cuaca ekstrem ini memiliki konsekuensi buruk bagi ritual ibadah haji yang dijalankan warga Muslim. Soalnya, banyak orang tua yang tidak akan tahan dengan cuaca panas, apalagi jika pelaksanaan ibadah haji terjadi saat musim panas," tulis Pal dan Elfaith.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×