Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mata uang Asia bergerak terbatas terhadap dolar AS pada Senin (7/9/2026). Peso Filipina menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan dan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.
Mengutip data Reuters pada pukul 02.14 GMT, peso Filipina melemah 0,25% ke level 62,752 per dolar AS dari posisi sebelumnya 62,596.
Dengan demikian, peso telah melemah sekitar 6,30% sepanjang 2026 dibandingkan posisi akhir 2025 di level 58,800 per dolar AS.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Menguat Senin (7/9), Saham Samsung dan SK Hynix Melonjak
Tekanan terhadap peso terjadi di tengah sentimen yang masih berhati-hati di pasar valuta asing Asia. Investor mencermati perkembangan geopolitik serta dampaknya terhadap harga energi dan inflasi global.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa peso Filipina menjadi salah satu mata uang Asia yang masih menghadapi tekanan jual, terutama karena Filipina merupakan negara pengimpor energi sehingga kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan kebutuhan dolar.
Rupiah Ikut Melemah
Rupiah juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Berdasarkan data Reuters, rupiah berada di level Rp17.650 per dolar AS, melemah 0,11% dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.630 per dolar AS.
Sepanjang 2026, rupiah telah melemah sekitar 5,55% dari level akhir 2025 sebesar Rp16.670 per dolar AS.
Baca Juga: Bursa Australia Bergerak Datar, Saham Energi Tahan Tekanan dari Saham Emas
Tekanan terhadap mata uang Asia juga terlihat pada baht Thailand yang melemah 0,18% menjadi 32,940 per dolar AS.
Ringgit Malaysia turun 0,10% menjadi 4,045 per dolar AS, sedangkan yuan China melemah 0,03% menjadi 6,713 per dolar AS.
Dolar Singapura melemah 0,06% ke 1,267 per dolar AS.
Won Korea dan Yen Menguat
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia mampu menguat terhadap dolar AS.
Won Korea Selatan naik 0,04% menjadi 1.343,640 per dolar AS. Penguatan won membuat mata uang tersebut mencatat apresiasi sekitar 7,21% sepanjang 2026 dari level akhir tahun lalu sebesar 1.440,510.
Yen Jepang juga menguat 0,04% ke 156,170 per dolar AS. Namun, secara tahunan yen masih melemah sekitar 0,31% dari posisi 156,650 pada akhir 2025.
Baca Juga: Kim Jong Un: Kapal Perusak Baru Korea Utara Masuk Sistem Respons Nuklir
Dolar Taiwan menguat 0,09% menjadi 31,601 per dolar AS. Sementara itu, rupee India bergerak stabil di 94,485 per dolar AS.
Ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang yang masih relatif stabil secara tahunan, dengan pelemahan sekitar 0,27% dibandingkan akhir 2025.
Secara keseluruhan, pasar valuta asing Asia masih menghadapi tekanan dari meningkatnya harga minyak dan ketidakpastian geopolitik.
Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi di negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak.














