Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur China masih mencatatkan ekspansi pada Oktober 2026. Namun, laju pertumbuhannya sedikit melambat seiring dengan melemahnya pertumbuhan pesanan ekspor, menurut survei swasta yang dirilis Senin (2/11/2026).
Melansir Reuters, Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Umum China versi RatingDog yang disusun S&P Global tercatat sebesar 52,0 pada Oktober. Angka ini sedikit turun dibandingkan posisi September sebesar 52,1.
Baca Juga: Binance Hadapi Penarikan Dana US$ 3,64 Miliar Usai Peretasan Kripto US$ 6,3 Miliar
Meski demikian, realisasi tersebut lebih tinggi dari perkiraan dalam jajak pendapat Reuters sebesar 51,6. Angka PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi.
Hasil survei swasta ini berbanding terbalik dengan data PMI resmi China yang dirilis pada Sabtu (31/10). Data tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur China secara tak terduga mengalami kontraksi.
Dari sisi permintaan, indeks pesanan baru turun tipis menjadi 53,3 pada Oktober dari 53,4 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan pesanan ekspor melambat ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Perlambatan pesanan ekspor terutama terjadi pada produsen barang konsumsi dan barang antara. Sebaliknya, produsen barang investasi justru mencatatkan percepatan pertumbuhan pesanan.
Baca Juga: PDB per Kapita Vietnam Diprediksi Lampaui Indonesia, Ini Proyeksi IMF
Di sisi produksi, output manufaktur meningkat dengan laju tercepat dalam enam bulan terakhir. Namun, persaingan yang semakin ketat mendorong perusahaan memangkas harga jual untuk mempertahankan penjualan.
Harga output tercatat turun setelah meningkat pada September. Penurunan biaya input turut memberikan ruang bagi perusahaan untuk menawarkan harga yang lebih rendah. Sementara itu, harga ekspor mengalami penurunan untuk pertama kalinya sejak November 2025.
Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah pekerja di sektor manufaktur meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, meski kenaikannya masih terbatas.
Di saat yang sama, tumpukan pekerjaan atau backlog meningkat selama sembilan bulan berturut-turut, mencerminkan tekanan terhadap kapasitas produksi akibat beban kerja yang lebih besar.
Baca Juga: Tesla dan Samsung Tolak Tarif Baru AS untuk Produk Vietnam, Ini Alasannya
Aktivitas pembelian bahan baku dan barang pendukung produksi juga tumbuh dengan laju tercepat sejak Februari.
Persediaan barang yang dibeli perusahaan bahkan meningkat pada kecepatan tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Meski masih berada di zona positif, tingkat optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis turun ke level terendah dalam sembilan bulan.
Sejumlah perusahaan menyoroti tingginya harga bahan baku dan persaingan yang semakin ketat sebagai tantangan utama.














