Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – LONDON. Poundsterling bertahan di sekitar level terendah dalam hampir tiga bulan terhadap euro dan dolar AS pada Jumat (25/9/2026), sementara dolar AS berada di jalur penguatan mingguan tajam untuk kedua kalinya secara beruntun.
Penguatan dolar AS didorong kenaikan harga energi serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Poundsterling sedikit berubah di level US$1,322. Mata uang Inggris tersebut sebelumnya melemah hingga US$1,32 pada Kamis (24/9), level terendah sejak 29 Juni 2026.
Poundsterling berada di jalur penurunan sekitar 1,2% terhadap dolar AS sepanjang pekan ini. Jika terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi pelemahan mingguan terbesar sejak Mei 2026. Pada pekan sebelumnya, poundsterling juga telah turun sekitar 1%.
Baca Juga: GM dan Ford Kehilangan Pangsa Pasar AS, Konsumen Beralih Mobil Irit BBM
Dolar AS Menguat
Dolar AS menguat sepanjang pekan ini seiring pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed.
Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu arus pasokan energi, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat, mendorong pejabat The Fed membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Hal tersebut terjadi setelah bank sentral AS menaikkan biaya pinjaman pada Rabu (23/9/2026).
Sementara itu, Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga pada pekan lalu. Keputusan tersebut berbeda dengan langkah The Fed dan European Central Bank (ECB).
Meski demikian, BoE mengisyaratkan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga apabila perang AS-Israel dengan Iran berlangsung berkepanjangan.
Ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan imbal hasil obligasi suatu negara. Kondisi tersebut membuat aset dalam mata uang negara tersebut menjadi lebih menarik dan meningkatkan permintaan terhadap mata uangnya.
Poundsterling Tertekan terhadap Euro
Poundsterling juga melemah terhadap euro dan berada di level terendah dalam tiga bulan. Euro tercatat mencapai 86,11 pence.
Francesco Pesole, currency strategist di ING, mengatakan poundsterling berpotensi menghadapi tekanan dalam beberapa bulan mendatang karena terdapat keraguan bahwa BoE akan menaikkan suku bunga secara agresif.
Baca Juga: Tesla Mulai Kirim Truk Listrik Semi, Bidik Pasar Angkutan Jarak Jauh
"BoE tampaknya tidak mungkin memenuhi ekspektasi pasar untuk pengetatan lebih lanjut, yang berarti penyesuaian ekspektasi ke arah kebijakan yang lebih longgar kemungkinan masih akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang," kata Pesole.
Di pasar uang, para trader memperkirakan pengetatan kebijakan moneter BoE sekitar 35 basis poin pada tahun ini dan lebih dari 100 basis poin hingga akhir 2027.
Namun, para ekonom secara umum memperkirakan langkah pengetatan moneter BoE akan jauh lebih terbatas.
Pasar juga memperkirakan sekitar 100 basis poin pengetatan tambahan dari ECB hingga akhir tahun depan. ECB sendiri telah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali sepanjang tahun ini.
Pergerakan tersebut membuat prospek kebijakan moneter menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi nilai tukar poundsterling, euro, dan dolar AS dalam beberapa bulan ke depan.














