Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. General Motors (GM) dan Ford Motor kehilangan pangsa pasar kendaraan di Amerika Serikat lebih besar dibandingkan produsen otomotif lainnya sepanjang tahun ini. Perubahan tersebut terjadi ketika konsumen AS semakin mempertimbangkan efisiensi bahan bakar di tengah tingginya harga bensin.
Berdasarkan proyeksi Cox Automotive yang dirilis Kamis (24/9/2026), penjualan kendaraan Ford diperkirakan turun 8,8% hingga tiga kuartal pertama 2026. Penurunan tersebut diperkirakan membuat pangsa pasar Ford menyusut hampir 1 poin persentase menjadi 12,5%.
Sementara itu, penjualan kendaraan GM di AS diproyeksikan turun 6,2% secara year-to-date hingga 30 September 2026. Cox memperkirakan GM akan mengakhiri kuartal ketiga dengan pangsa pasar 16,7%, turun dari 17,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kedua perusahaan tersebut mencatat penurunan pangsa pasar paling tajam di antara 13 perusahaan otomotif yang dipantau dalam proyeksi kuartalan Cox Automotive.
Stellantis, induk Chrysler dan salah satu dari tiga produsen otomotif tradisional Detroit, diperkirakan justru mampu meningkatkan pangsa pasarnya hingga kuartal ketiga. Meski demikian, pangsa gabungan ketiga produsen otomotif besar Detroit tersebut diperkirakan turun ke level terendah sepanjang sejarah, yakni sekitar 36%.
Baca Juga: Tesla Mulai Kirim Truk Listrik Semi, Bidik Pasar Angkutan Jarak Jauh
GM dan Ford Tertinggal dalam Mobil Hemat Bahan Bakar
Analis menilai GM dan Ford terdampak oleh relatif sedikitnya pilihan mobil dan SUV hemat bahan bakar yang mereka tawarkan dibandingkan para pesaing.
Juru bicara GM menolak memberikan komentar terkait proyeksi tersebut.
Dealer GM sebelumnya mengatakan sebagian konsumen mereka beralih ke merek lain karena GM belum menawarkan model hybrid.
Kondisi serupa juga terjadi di Ford. Penjualan perusahaan antara lain tertekan setelah menghentikan produksi Escape, SUV kompak yang menjadi salah satu model paling efisien bahan bakar milik Ford.
Penjualan Ford secara keseluruhan juga mendapat tekanan akibat produksi truk pikap yang lebih rendah. Penurunan produksi tersebut terjadi setelah kebakaran di salah satu pemasok aluminium mengganggu pasokan dan memangkas output.
Merek Mobil Hybrid Raih Pertumbuhan Penjualan
Produsen otomotif yang memiliki sejumlah model hybrid justru mencatat kinerja lebih baik tahun ini. Mobil hybrid menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik dan baterai untuk menghemat konsumsi bahan bakar.
Permintaan terhadap kendaraan hemat bahan bakar meningkat di tengah tingginya harga bensin yang dipicu oleh perang Iran.
Penjualan Hyundai dan Kia secara gabungan diperkirakan melampaui penjualan Ford pada kuartal ketiga 2026. Jika terealisasi, hal tersebut akan menjadi pertama kalinya dua produsen otomotif asal Korea Selatan tersebut mencatat penjualan kendaraan lebih tinggi dibandingkan Ford dalam satu kuartal, menurut Cox Automotive.
Ford membantah perbandingan tersebut dalam sebuah pernyataan. Ford menyebut Hyundai dan Kia merupakan dua perusahaan berbeda.
"Hyundai dan Kia merupakan dua perusahaan terpisah dan, bahkan jika digabungkan, Ford masih menjual lebih banyak kendaraan dibandingkan kedua perusahaan Korea tersebut secara year-to-date. Berdasarkan pendapatan, kesenjangan antara Ford dan Hyundai Kia jauh lebih besar," kata Ford.
Baca Juga: Banyak Warga Asing, Populasi Singapura Capai Rekor 6,21 Juta Jiwa
Toyota, yang menjadi pemimpin industri dalam penjualan kendaraan hybrid, diperkirakan membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 1,1% hingga tiga kuartal pertama 2026.
Sementara itu, penjualan Honda diproyeksikan tumbuh 5,6%, menurut Cox Automotive.
"Kami melihat beberapa merek Asia ini mulai bergerak maju dan benar-benar mengambil alih industri. Yang paling penting, mereka memiliki kendaraan hybrid," kata Erin Keating, analis eksekutif Cox Automotive.
Proyeksi Penjualan Mobil AS Naik
Di tengah tekanan ekonomi yang dihadapi konsumen Amerika Serikat, pasar kendaraan baru masih menunjukkan ketahanan.
Cox Automotive menaikkan proyeksi penjualan kendaraan baru AS sepanjang 2026 menjadi 16,1 juta unit, dari perkiraan sebelumnya sebesar 15,8 juta unit.
"Terlepas dari tahun yang penuh volatilitas ini, pasar kendaraan baru sebenarnya bertahan dengan cukup stabil, bahkan secara mengejutkan," ujar Keating.














