kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.755   2,00   0,01%
  • IDX 6.594   68,22   1,05%
  • KOMPAS100 863   11,23   1,32%
  • LQ45 653   9,54   1,48%
  • ISSI 230   1,12   0,49%
  • IDX30 366   5,64   1,57%
  • IDXHIDIV20 452   8,62   1,95%
  • IDX80 98   1,44   1,49%
  • IDXV30 125   1,30   1,05%
  • IDXQ30 117   1,94   1,69%

Perusahaan AS Ambil Alih Ladang Minyak Venezuela dari China dan Rusia


Selasa, 01 September 2026 / 15:06 WIB
Perusahaan AS Ambil Alih Ladang Minyak Venezuela dari China dan Rusia
ILUSTRASI. Kilang Minyak Venezuela (REUTERS/Gaby Oraa)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perusahaan minyak asal Amerika Serikat (AS), North American Blue Energy Partners (NABEP), akan mengambil alih sejumlah ladang minyak Venezuela yang sebelumnya dikelola oleh beberapa perusahaan China dan satu perusahaan Rusia.

Informasi tersebut disampaikan oleh dua pejabat AS kepada Reuters pada Senin (31/8/2026). Pengambilalihan aset migas tersebut menjadi bagian dari kesepakatan besar produksi minyak yang diumumkan Presiden AS Donald Trump bersama Venezuela.

Menurut para pejabat tersebut, proyek-proyek migas itu termasuk dalam 14 kontrak baru yang diberikan kepada NABEP yang didukung AS. NABEP sebelumnya dimiliki taipan minyak AS Harry Sargeant dan kini berada di bawah kendali pengusaha Venezuela Alejandro Betancourt.

Betancourt mengonfirmasi kesepakatan tersebut. Ia mengatakan Venezuela memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar dan kesepakatan dengan AS akan membuka peluang baru bagi negara tersebut.

Baca Juga: Korea Utara dan AS Disebut Mulai Buka Jalan Dialog, Trump Siap Bertemu Kim Jong Un

"Venezuela diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat yang pekerja keras, dan potensi yang belum dimanfaatkan. Transaksi ini akan membuka potensi tersebut demi memberikan manfaat besar bagi warga Venezuela dan Amerika," kata Betancourt dalam sebuah pernyataan.

AS Dapat Hak atas Produksi Minyak Venezuela

Dalam kesepakatan tersebut, NABEP akan memegang kendali operasional atas bisnis yang dijalankan. Sementara itu, pemerintah AS akan memperoleh hak kepemilikan atas 35% saham perusahaan.

Selain kepemilikan saham, AS juga mendapatkan "akses istimewa" terhadap 20% produksi perusahaan dengan harga pokok.

Gedung Putih menyatakan NABEP juga memberikan hak penolakan pertama atau right of first refusal kepada Departemen Luar Negeri AS untuk membeli 80% produksi perusahaan yang tersisa.

Kesepakatan ini memperkuat posisi perusahaan-perusahaan AS di sektor minyak Venezuela sekaligus membuka akses lebih besar Washington terhadap sumber energi negara tersebut.

Pekan lalu, Trump mengumumkan bahwa AS telah memperoleh akses terhadap sekitar 64 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela melalui kemitraan dengan sektor swasta.

Kesepakatan tersebut memberikan perusahaan AS pijakan pada sejumlah aset minyak strategis Venezuela yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan kepentingan China dan Rusia.

Langkah tersebut juga memberikan Washington peran langsung dalam menentukan pihak yang memproduksi dan menjual minyak Venezuela. Pemerintahan Trump berupaya membentuk kembali industri minyak Venezuela sekaligus mendekatkan cadangan minyak negara tersebut dengan kepentingan ekonomi dan geopolitik AS.

Gedung Putih menambahkan, pemerintah AS memiliki hak veto atas dewan dan jajaran direksi NABEP. Washington juga mensyaratkan mayoritas anggota dewan perusahaan merupakan warga negara AS.

Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Grand Canyon, 2 Orang Tewas dan Lebih dari 20 Hilang

NABEP Akan Kelola 17 Proyek Minyak

NABEP diperkirakan akan mengendalikan total 17 proyek minyak di Venezuela. Proyek-proyek tersebut akan dikembangkan untuk meningkatkan produksi minyak dan pada akhirnya memasok kebutuhan pasar AS.

Dari total 17 proyek tersebut, sebanyak 14 proyek merupakan kontrak baru yang diberikan pemerintah Venezuela kepada NABEP.

Para pejabat AS mengatakan lima dari 14 ladang minyak tersebut sebelumnya dioperasikan perusahaan-perusahaan China melalui model kerja sama yang dipromosikan oleh mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Sementara itu, satu proyek sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan Rusia.

Dua proyek di antaranya pernah dioperasikan China Concord Resources, perusahaan yang dikenai sanksi AS pada 2019 terkait aktivitas yang berhubungan dengan Iran.

Proyek lainnya sebelumnya dikelola oleh Sinopec dan China National Petroleum Corp (CNPC).

Salah satu pejabat AS mengatakan kesepakatan tersebut bukan hanya membuka peluang bagi pemerintah dan operator AS, tetapi juga mengubah tujuan pasar minyak Venezuela.

"Tidak hanya membuka peluang baru bagi pemerintah AS untuk mendapatkan manfaat dan bagi operator AS untuk mendapatkan manfaat, kami juga membuka Amerika Serikat sebagai pasar untuk minyak ini, yang sebelumnya dikirim ke China," ujar pejabat tersebut.

Aset Minyak Terkait Tokoh Venezuela

Selain perusahaan China dan Rusia, sejumlah proyek minyak yang akan masuk dalam pengelolaan NABEP juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah tokoh Venezuela.

Dua proyek sebelumnya dioperasikan oleh afiliasi Alex Saab, mantan orang dekat Nicolas Maduro yang saat ini berada dalam tahanan AS.

Proyek lainnya disebut memiliki keterkaitan dengan keponakan Cilia Flores, istri Maduro.

Pengambilalihan sejumlah aset tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam struktur pengelolaan industri minyak Venezuela, terutama terkait dengan pergeseran pengaruh dari perusahaan China dan Rusia ke perusahaan yang didukung AS.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS dan Arah The Fed

Trump Klaim Minyak Venezuela Mulai Mengalir ke AS

Trump mengatakan pada Senin bahwa AS saat ini mengambil "jutaan dan jutaan barel minyak" Venezuela yang sebelumnya dikirim ke berbagai lokasi pengolahan.

Minyak tersebut, menurut Trump, saat ini dikirim ke sejumlah kilang di Texas dan Louisiana.

Trump dijadwalkan bertemu dengan para pengecer minyak dan perusahaan kilang minyak serta gas pada Selasa untuk membahas perkembangan tersebut.

Di sisi lain, pejabat AS mengatakan otoritas sementara Venezuela dan perwakilan Majelis Nasional 2015 tengah melakukan pembicaraan untuk memulihkan sebagian tatanan konstitusional serta menyelesaikan persoalan hukum terkait proses transisi politik negara tersebut.

Pemerintahan Trump menganggap Majelis Nasional 2015 sebagai badan legislatif Venezuela terakhir yang dipilih dan beroperasi berdasarkan konstitusi negara tersebut. Namun, lembaga itu saat ini tidak memiliki kewenangan pemerintahan secara formal.

Salah satu pejabat AS mengatakan kesepakatan dengan Majelis Nasional 2015 dapat memberikan dasar konstitusional dan hukum bagi proses transisi yang lebih luas.

Dasar hukum tersebut juga dinilai penting untuk mendukung keputusan ekonomi, termasuk upaya menghidupkan kembali industri minyak Venezuela.

Dengan demikian, kesepakatan NABEP tidak hanya menyangkut pengambilalihan ladang minyak. Langkah tersebut berpotensi menjadi bagian penting dari upaya AS mengubah struktur industri migas Venezuela sekaligus menggeser pengaruh China dan Rusia dari salah satu negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×