kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.915   -26,00   -0,14%
  • IDX 5.908   -27,77   -0,47%
  • KOMPAS100 763   -2,98   -0,39%
  • LQ45 588   -3,26   -0,55%
  • ISSI 205   -1,15   -0,56%
  • IDX30 327   -2,37   -0,72%
  • IDXHIDIV20 421   -1,54   -0,36%
  • IDX80 87   -0,39   -0,44%
  • IDXV30 116   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 107   -0,74   -0,69%

Produsen Mobil Eropa Hidupkan Model Legendaris untuk Lawan Mobil Listrik China


Selasa, 13 Oktober 2026 / 14:21 WIB
Produsen Mobil Eropa Hidupkan Model Legendaris untuk Lawan Mobil Listrik China
ILUSTRASI. Produsen mobil Eropa menghidupkan kembali model legendaris seperti Renault 5 dan Citroen 2CV untuk menghadapi persaingan mobil listrik China. (DOK/nissan-global.com)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - PARIS. Produsen otomotif Eropa mulai mengandalkan nostalgia untuk mempertahankan daya saing di tengah gempuran mobil listrik (electric vehicle/EV) asal China yang menawarkan harga lebih murah dan teknologi semakin canggih.

Sejumlah produsen mobil lawas di Eropa kembali menghidupkan model-model ikonik dari masa lalu dalam versi listrik. Strategi ini ditempuh untuk membedakan produk mereka dari para pesaing asal China sekaligus menarik minat konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik.

Renault, misalnya, menghadirkan kembali Renault 5 yang pertama kali diluncurkan pada 1972. Sementara itu, Citroen bersiap menghidupkan kembali model 2CV yang legendaris, sedangkan Volkswagen (VW) mengusung sejumlah elemen desain klasik pada mobil listrik Polo terbarunya.

Persaingan ini semakin penting seiring meningkatnya permintaan mobil listrik di Eropa, yang turut didorong oleh lonjakan harga bahan bakar. Namun, berdasarkan data Schmidt Automotive Research, produsen China, termasuk BYD dan Geely, telah menguasai hampir 11% pasar otomotif Eropa pada kuartal II-2026.

Mobil-mobil buatan China tersebut umumnya menawarkan harga lebih kompetitif dengan teknologi yang dinilai lebih maju dibandingkan sejumlah merek lokal.

Di tengah upaya menekan biaya produksi dan memperkecil kesenjangan teknologi, warisan sejarah merek menjadi salah satu keunggulan yang sulit ditiru oleh produsen China yang relatif lebih baru.

Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Ubah Strategi NATO, Teknologi Penangkal Drone Jadi Prioritas

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil bagi Renault. Versi listrik Renault 5 menjadi mobil listrik kelas menengah terlaris di Eropa sepanjang tahun berjalan hingga periode pelaporan Reuters. Model ini turut membantu mendongkrak pendapatan Renault pada semester I-2026 sebesar 9%.

Kini, produsen otomotif Eropa lainnya mengikuti langkah serupa.

Stellantis memperkenalkan versi listrik Citroen 2CV, model ikonik yang diproduksi pada 1948–1990, dalam ajang Paris Motor Show pekan ini. Adapun Volkswagen menghadirkan ID. Polo dengan desain yang banyak mengambil inspirasi dari era kejayaan Golf pada 1980-an.

Kepala desain Renault Group, Laurens van den Acker, mengatakan perusahaan ingin menciptakan pembeda sekaligus membangun ikatan emosional dengan konsumen.

"Kami ingin membedakan diri dan juga membangkitkan respons emosional tertentu," ujarnya.

Nostalgia Jadi Nilai Tambah Mobil Listrik

Bagi sebagian konsumen, pendekatan yang menggabungkan desain klasik dan teknologi modern terbukti menarik.

Chris Litchfield, warga Inggris berusia 51 tahun, membeli mobil listrik pertamanya pada Mei lalu. Ia memilih Renault 5 versi listrik berwarna kuning karena tumbuh besar dengan mobil Renault 5.

"Keinginan untuk memiliki Renault 5 baru jauh lebih besar daripada keraguan saya untuk memiliki mobil listrik," katanya.

"Alasan utama saya menyukainya adalah karena mobil itu adalah Renault 5," terangnya.

"Mobil ini benar-benar merupakan interpretasi ulang yang segar dan modern dari model tersebut," lanjutnya.

Volkswagen juga mendapatkan respons serupa melalui ID. Polo, bagian dari rangkaian mobil listrik terjangkau yang dirancang untuk menghadapi persaingan dari produsen China.

Mobil tersebut menawarkan fitur tambahan berupa mode dasbor retro yang meniru tampilan speedometer Golf generasi awal. Fitur ini juga dapat memutar musik melalui animasi kaset virtual.

Kepala desain Volkswagen, Andreas Mindt, mengatakan fitur tersebut awalnya hanya dibuat sebagai lelucon.

"Kami sebenarnya hanya bermaksud menjadikannya sebagai lelucon," kata Mindt.

Namun, ia menambahkan, "orang-orang menyukainya."

Stellantis berharap mendapatkan respons positif serupa melalui peluncuran Citroen 2CV listrik. Perusahaan menargetkan para penggemar setia mobil kompak tersebut sekaligus konsumen yang lebih luas, terutama mereka yang mencari kendaraan listrik dengan harga terjangkau.

Baca Juga: Bandara Riyadh Ditutup hingga 17 Oktober, Serangan Houthi Lumpuhkan Penerbangan

Robert Dooley, ahli strategi desain senior di Car Design Research, menilai pendekatan retro memiliki relevansi kuat untuk mobil listrik berukuran kecil dengan harga ekonomis.

"Menarik bahwa kita melihat tren retro seperti ini pada mobil listrik kecil dan terjangkau di Eropa, karena di segmen inilah tekanan harga dari merek-merek China akan paling kuat," ujarnya.

Menurut dia, margin keuntungan mobil kecil relatif terbatas. Karena itu, produsen perlu mencari cara untuk meningkatkan nilai produk tanpa membuat harga jual melonjak terlalu tinggi.

"Apa pun yang bisa dilakukan untuk menambahkan sedikit nilai lebih akan mendapat sambutan positif," tambahnya.

Mengandalkan Sejarah Merek Memiliki Batas

Meski berpotensi memperkuat daya tarik produk, strategi menghidupkan kembali model klasik tidak selalu menjamin keberhasilan.

Van den Acker mengatakan pendekatan retro mungkin lebih efektif di Eropa, tempat keluarga dan konsumen kerap mempertahankan loyalitas terhadap model atau desain mobil tertentu selama beberapa generasi. Namun, strategi tersebut belum tentu berhasil di pasar lain atau bertahan dalam jangka panjang.

"Mobil ikonik tidak akan abadi, mereka memiliki masa kejayaannya sendiri," ujarnya.

Ia menambahkan, produsen otomotif perlu menentukan momentum yang tepat untuk menghidupkan kembali model legendaris. Pasalnya, ikon yang populer bagi satu generasi belum tentu memiliki daya tarik yang sama bagi generasi berikutnya.

Sejumlah pengalaman sebelumnya juga menunjukkan bahwa popularitas model klasik tidak selalu bertahan setelah diluncurkan kembali.

Volkswagen ID. Buzz, misalnya, sempat menarik perhatian ketika diperkenalkan sebagai minibus listrik pada awal dekade ini. Namun, minat konsumen di Amerika Serikat kemudian meredup karena harga yang dinilai terlalu tinggi dan jarak tempuh yang dianggap kurang memadai.

Sementara itu, Volkswagen Beetle, salah satu desain mobil paling ikonik pada abad ke-20, tidak berlanjut ke era kendaraan listrik. Model tersebut memiliki sejarah panjang dan kembali populer dalam budaya tandingan pada 1960-an setelah melewati masa lalu yang terkait dengan era Nazi.

Volkswagen menghentikan produksi Beetle pada 2019 seiring perubahan selera konsumen yang semakin mengarah ke kendaraan sport utility vehicle (SUV).

Mindt menegaskan, produsen otomotif tidak bisa hanya mengandalkan kejayaan masa lalu untuk mempertahankan posisi di pasar.

"Kami tidak boleh berpuas diri dengan sejarah kami," katanya.

Ia menekankan pentingnya pengembangan fitur dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masa depan, termasuk pengisian daya cepat dan kemampuan berkendara otonom.

"Kami harus unggul dalam teknologi yang dibutuhkan untuk masa depan," tambahnya.

Baca Juga: ASEAN Bahas Kabut Asap Lintas Negara, Karhutla RI Terparah dalam 11 Tahun

Tantangan Menjaga Karakter Asli Mobil Legendaris

Selain persoalan harga dan teknologi, produsen otomotif juga menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa model yang dihidupkan kembali tetap mempertahankan karakter yang membuatnya populer pada masa lalu.

Menjelang peluncuran Citroen 2CV listrik, Citroen meminta masukan dari para kolektor model aslinya mengenai elemen yang sebaiknya dipertahankan. Para responden menyoroti harga yang terjangkau, kemudahan berkendara, serta atap lipat khas mobil tersebut.

Namun, Thierry Jouanny, pimpinan klub kolektor Citroen 2CV di Prancis yang memiliki model keluaran 1951, menilai bahwa versi terbaru tidak cukup hanya mengadopsi desain klasik.

Menurut dia, mobil tersebut juga harus mampu mempertahankan daya tarik emosional yang melekat pada versi aslinya.

"2CV baru harus memiliki sesuatu yang istimewa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata," ujarnya.

"Unsur yang menarik perhatian orang, sehingga Anda tidak lagi menjadi sosok tanpa identitas yang larut di tengah keramaian," ungkapnya.

Persaingan mobil listrik di Eropa dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan harga, teknologi baterai, jarak tempuh, atau kecepatan pengisian daya. Identitas merek dan ikatan emosional dengan konsumen juga menjadi faktor yang mulai diperhitungkan oleh produsen otomotif.

Namun, keberhasilan strategi nostalgia tetap bergantung pada kemampuan produsen menggabungkan daya tarik desain klasik dengan teknologi modern, harga kompetitif, serta fungsi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×