Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Percakapan telepon antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (9/10/2026) berlangsung selama sekitar satu setengah jam dalam suasana yang disebut akrab dan substantif.
Bahkan, kedua pemimpin disebut tidak ingin menjadi pihak pertama yang mengakhiri percakapan.
Kantor berita Rusia, Interfax, mengutip penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov pada Sabtu (10/10/2026), melaporkan bahwa pembicaraan tersebut berlangsung dalam suasana sangat bersahabat.
Baca Juga: Arsenal Bangkit Usai Tertinggal, Tekuk Leeds United 2-1 di Liga Inggris
“Tidak ada yang ingin menjadi pihak pertama yang menutup telepon. Mereka mengakhiri panggilan secara bersamaan, benar-benar pada saat yang sama,” kata Ushakov dilansir dari Reuters.
Menurut Kremlin, sebagian besar pembicaraan kedua pemimpin berfokus pada upaya menyelesaikan perang di Ukraina.
Namun, Putin juga meredam ekspektasi mengenai kemungkinan dimulainya kembali perundingan damai yang melibatkan tiga pihak dalam waktu dekat.
Selain membahas perang, Putin dan Trump dilaporkan menyepakati pasokan solar Rusia ke AS dan pasar global untuk membantu menekan harga bahan bakar.
Kesepakatan tersebut diikuti pelonggaran sementara yang tidak terduga atas sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia, sebuah langkah yang menuai keberatan dari Ukraina.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Diskors Sementara Usai Tinggalkan Pemusatan Timnas Portugal
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengkritik kesepakatan tersebut setelah kabar percakapan Putin dan Trump mencuat pada Jumat.
Ia menyebut keputusan itu sebagai langkah yang lemah dan menilai kebijakan tersebut sama dengan berinvestasi dalam perang yang seharusnya dihentikan.
Negara-negara Barat menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Rusia, termasuk pembatasan impor energi, setelah Moskow melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang sejauh ini belum menghasilkan kesepakatan. Salah satu hambatan utamanya adalah tuntutan Rusia atas empat wilayah Ukraina yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Moskow.
Pada Jumat, perunding dari AS, Ukraina, dan sejumlah negara Eropa juga menggelar pembicaraan di Miami.
Baca Juga: Verstappen Juara Sprint GP Singapura, Hujan Deras Picu Sembilan Mobil Gagal Finis
Menurut seseorang yang mengetahui diskusi tersebut, pertemuan itu bertujuan mencapai kesepakatan mengenai proposal perdamaian bersama dalam beberapa pekan mendatang untuk kemudian disampaikan kepada Rusia.
Ukraina masih mengandalkan dukungan AS dalam proses negosiasi untuk mengakhiri perang tersebut.














