Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong perdamaian antara Rusia dan Ukraina tampaknya belum membuahkan hasil.
Presiden Rusia Vladimir Putin justru dinilai cenderung meningkatkan intensitas perang dalam beberapa bulan ke depan demi merebut seluruh wilayah Donbas di Ukraina timur.
Mengutip Reuters, tiga sumber yang dekat dengan Kremlin menyebut Putin belum bersedia berunding dengan Kyiv.
Serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak, pelabuhan, dan fasilitas energi Rusia justru disebut memperkuat tekad Kremlin untuk melanjutkan perang.
Baca Juga: Warga AS di Iran Terancam, Aktivis Khawatir Jadi Alat Tawar di Tengah Eskalasi Perang
Dua sumber bahkan menyatakan peluang eskalasi konflik dalam beberapa bulan mendatang sangat tinggi.
Salah satu sumber yang mengaku rutin bertemu Putin mengatakan, presiden Rusia itu tetap berpegang pada target menguasai sisa wilayah Donbas yang hingga kini masih dikuasai Ukraina.
Sikap tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Trump awal pekan ini yang menyebut penyelesaian konflik sudah "lebih dekat dari yang diperkirakan banyak orang".
Trump diketahui telah melakukan pembicaraan terpisah dengan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, serta kembali bertemu Zelensky dalam KTT NATO untuk membahas peluang perdamaian.
Menurut sumber Reuters, Putin bahkan menolak usulan sejumlah penasihat yang menginginkan gencatan senjata berdasarkan garis depan saat ini.
Baca Juga: Trump Ancam Eskalasi Perang Iran, tapi Sebut Konflik Bisa Segera Berakhir
Kremlin meyakini Rusia pada akhirnya mampu merebut seluruh wilayah Donbas meski laju ofensif militernya melambat sepanjang tahun ini.
Menanggapi laporan tersebut, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan Rusia tetap membuka peluang penyelesaian damai, namun siap melanjutkan operasi militernya.
"Rusia siap untuk penyelesaian damai, tetapi memiliki kemampuan yang cukup untuk bertindak secara mandiri dan melanjutkan operasi militer khusus," kata Peskov.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Ukraina mengatakan laporan intelijen Kyiv menunjukkan Putin sedang menyiapkan langkah lanjutan dalam perang, termasuk kemungkinan operasi militer baru di Ukraina maupun ancaman terhadap negara Eropa lainnya.
Sejumlah analis militer Barat menilai ambisi Rusia menguasai seluruh Donbas kemungkinan membutuhkan mobilisasi wajib militer dalam skala lebih besar. Namun langkah tersebut dinilai sensitif secara politik sehingga sejauh ini masih dihindari Kremlin.
Baca Juga: Ketika Pasar Menantikan Akhir Perang Duet Amerika Serikat (AS)-Israel Versus Iran
Di Rusia sendiri, sejumlah pakar militer mulai secara terbuka membahas kemungkinan eskalasi, termasuk serangan terhadap fasilitas NATO di kawasan Baltik.
Langkah semacam itu berisiko memicu konfrontasi langsung dengan aliansi NATO, meski sejumlah analis menilai Rusia kemungkinan hanya ingin menguji soliditas respons negara-negara anggota.
Tekanan perang juga mulai dirasakan di dalam negeri Rusia. Serangan drone Ukraina yang berulang terhadap kilang minyak, terminal penyimpanan, dan pelabuhan telah memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai wilayah.
Kondisi tersebut meningkatkan biaya perang sekaligus mulai memengaruhi sentimen publik, meski tingkat dukungan terhadap Putin masih tergolong tinggi.
Baca Juga: Rumor Iran Siap Mengakhiri Perang Bikin Harga Minyak Menurun
Dalam sepekan terakhir, Rusia melancarkan dua gelombang serangan besar menggunakan drone dan rudal ke berbagai wilayah Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv.
Serangan itu menewaskan puluhan warga sipil, sementara Moskow menyatakan sasaran serangan merupakan fasilitas militer.
Dalam pidato kepada para petinggi militer pekan lalu, Putin juga mengisyaratkan Rusia ingin memperluas penguasaan wilayah di sepanjang perbatasan Ukraina sebagai "zona keamanan", di luar target Donbas.
Meski demikian, ambisi tersebut diperkirakan tidak mudah diwujudkan. Kemajuan pasukan Rusia di garis depan sepanjang sekitar 1.200 kilometer masih berjalan lambat akibat perlawanan sengit Ukraina yang semakin mengandalkan teknologi drone untuk menahan keunggulan jumlah pasukan Rusia.
Baca Juga: Bursa Asia Kompak Memerah pada Kamis (19/3) Pagi, Terseret Eskalasi Perang Iran
Menurut perkiraan terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS), sekitar dua juta personel dari kedua belah pihak telah tewas, terluka, atau hilang sejak invasi skala penuh dimulai pada 2022.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1,4 juta merupakan personel Rusia, meski baik Moskow maupun Kyiv tidak pernah merilis data resmi korban militernya.














