Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - BERLIN. Produsen mobil sport Porsche mengumumkan kinerja positif per September 2026. Reuters memberitakan, mengutip pengumuman Porsche, Selasa (27/10/2026), laba operasional selama sembilan bulan pertama 2026 tercatat sebesar € 1,74 miliar, atau sekitar Rp 35,26 triliun.
Realisasi tersebut jauh lebih tinggi dibanding realisasi di periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar € 40 juta. Saat itu, produsen mobil anggota grup Volkswagen ini terdampak peningkatan biaya yang sebagian besar berkaitan dengan penghentian strategi elektrifikasinya.
Perbaikan ini menjadi pertanda awal rencana perbaikan yang diusung CEO Michael Leiters mulai membuahkan hasil. Strategi tersebut antara lain mencakup pengurangan skala operasional dan penarikan diri dari pasar China.
Sekadar informasi, strategi elektrifikasi yang dijalankan Porsche sebelumnya gagal berkembang. Kegagalan ini mengakibatkan biaya restrukturisasi sebesar € 2,7 miliar, sekitar Rp 54,72 triliun.
Leiters memaparkan strateginya kepada para investor awal bulan ini. Ia berencana lebih mengedepankan kustomisasi dan model-model eksklusif dengan margin keuntungan lebih tinggi. Langkah ini akan membuat perusahaan menjadi lebih ramping, dan diharapkan dapat meningkatkan laba.
Baca Juga: Rusia-Ukraina Mulai Gencatan Senjata di Oleshky, Serangan di Wilayah Lain Berlanjut
Ini tercermin dari peningkatan penjualan sebesar 12% pada model unggulan Porsche, 911, yang memiliki margin keuntungan tinggi. Model ini menjadi satu-satunya produk dalam portofolio Porsche yang mencatat kenaikan penjualan selama sembilan bulan pertama tahun ini.
"Kami menerapkan penataan ulang strategi ini secara konsisten dan dengan langkah yang cepat. Fokus kami adalah pada bisnis inti, struktur biaya yang kompetitif, dan peningkatan profitabilitas yang berkelanjutan," ujar Leiters, seperti dikutip Reuters, Selasa (27/10/2026).
Leiters menegaskan, Porsche sedang menciptakan kondisi untuk memposisikan Porsche sebagai perusahaan yang lebih kuat, lebih fokus, dan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Porsche, yang seluruh produksinya dilakukan di Eropa, terkena dampak tarif impor Amerika Serikat. Namun, Direktur Keuangan Jochen Breckner menyatakan, rencana pembangunan pabrik di Georgia oleh Audi, merek lain di bawah naungan grup VW, tidak akan menyebabkan pengalihan produksi.
"Ini justru menambah kompleksitas dalam bisnis kami. Kami masih akan memiliki komponen mesin yang diproduksi di tempat lain yang harus diekspor ke Amerika Serikat. Selain itu, kami akan menghadapi investasi ganda terkait pemasok," ungkap Breckner kepada para analis.
Penurunan penjualan di China telah menekan kinerja Porsche, Volkswagen, serta anak perusahaan lainnya, Audi. Penurunan ini kemudian mendorong dilakukannya restrukturisasi pada perusahaan induk tersebut.














