kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45827,22   1,41   0.17%
  • EMAS1.040.000 1,17%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.01%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Ribuan orang di Berlin Jerman memprotes penerapan pembatasan akibat virus corona


Sabtu, 01 Agustus 2020 / 22:09 WIB
Ribuan orang di Berlin Jerman memprotes penerapan pembatasan akibat virus corona
ILUSTRASI. Patung bermasker di Jerman.

Reporter: Handoyo | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - BERLIN. Ribuan orang berbaris di Berlin pada hari Sabtu untuk memprotes tindakan yang diberlakukan di Jerman untuk membendung pandemi virus corona dengan mengatakan mereka melanggar hak dan kebebasan masyarakat.

Menurut Polisi setempat, aksi tersebut diperkirakan diikuti oleh 17.000 orang, termasuk libertarian, loyalis konstitusional dan aktivis anti-vaksinasi. Ada juga kehadiran barisan sayap kanan dengan beberapa demonstran membawa bendera hitam, putih dan merah kekaisaran Jerman.

Para pengunjuk rasa menari dan menyanyikan "Kami adalah orang-orang bebas!" Dengan irama band rock Queen's ‘We Will Rock You’. Yang lain berbaris dengan plakat bertuliskan ‘Kami membuat suara karena Anda mencuri kebebasan kami!’ Dan ‘Jangan berpikir! Jangan memakai masker! ’.

Baca Juga: Rusia bersiap vaksinasi massal virus corona (Covid-19) pada Oktober 2020

"Tuntutan kami adalah kembali ke demokrasi," kata seorang pemrotes yang menolak menyebutkan namanya. "Masker yang memperbudak kita harus pergi."

Protes menyusul seruan dari Michael Ballweg, seorang pengusaha yang telah mengorganisir aksi serupa di Stuttgart dan saat ini sedang merusaha untuk menjadi walikota kota barat daya.

Setelah keberhasilan awal Jerman dalam mengendalikan pandemi, infeksi meningkat lagi. Lebih dari 200.000 orang telah menangkap COVID-19 dan hampir 1.000 telah meninggal karenanya.

Baca Juga: Dokter dan perawat di Filipina menyerukan untuk dilakukan lockdown lagi

Sebagian besar orang di Jerman menghormati langkah-langkah yang diberlakukan termasuk mengenakan masker di toko-toko, sementara pemerintah baru saja melakukan tes wajib bagi wisatawan yang kembali dari daerah berisiko tinggi. Tapi minoritas vokal menentang pembatasan.



TERBARU

[X]
×