kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Saham Global Naik Setelah Data Tenaga Kerja AS Lemah, Aksi Jual Obligasi Berlanjut


Sabtu, 03 Oktober 2026 / 05:35 WIB
Saham Global Naik Setelah Data Tenaga Kerja AS Lemah, Aksi Jual Obligasi Berlanjut
ILUSTRASI. Wall Street - Bursa AS (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW YORK/LONDON. Pasar saham global naik setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) lemah, namun aksi jual obligasi masih berlanjut.

Indeks saham utama AS naik dan nilai tukar dolar melemah pada Jumat (2/10/2026), seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini, menyusul data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan.

Namun, imbal hasil obligasi kembali naik karena pasar obligasi melanjutkan aksi jual yang telah mendorong imbal hasil global ke tingkat tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Data nonfarm payrolls AS menunjukkan penambahan 29.000 lapangan kerja bulan lalu—angka yang dirilis dalam laporan ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja yang diawasi ketat pasar.

Angka ini berada di bawah perkiraan penambahan 90.000 lapangan kerja menurut para ekonom yang disurvei Reuters. Pertumbuhan lapangan kerja bulan Agustus direvisi turun menjadi 133.000 dari angka lonjakan 162.000 yang dilaporkan sebelumnya.

Baca Juga: Kesepakatan AS-Korsel, Trump Sebut Ada Investasi US$ 8,4 Miliar untuk Minyak

Spekulasi mengenai kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober—setelah bulan lalu bank sentral tersebut menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023—menurun setelah rilis data tersebut.

Para trader memperkirakan probabilitas sekitar 80% bahwa suku bunga tidak akan berubah pada pertemuan bulan ini, dibandingkan dengan 74% sebelum data dirilis.

"Data pasar tenaga kerja kali ini tidak sekuat bulan Agustus," ujar Joseph Purtell, wakil presiden senior, manajer portofolio, dan pedagang instrumen suku bunga di Neuberger Berman.

Meski demikian, ia menilai kondisi pasar tenaga kerja secara umum masih stabil.

Ekspektasi kenaikan suku bunga bulan Oktober memang sudah menurun menjelang rilis laporan tenaga kerja hari Jumat. Dua pejabat tinggi pembuat kebijakan menyatakan pekan ini bahwa mereka menginginkan lebih banyak data sebelum memutuskan langkah selanjutnya terkait suku bunga.

Menurut data LSEG, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Desember tercatat sekitar 86%. Suku bunga yang lebih tinggi sering kali dipandang negatif bagi pasar saham karena meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan konsumen.

Baca Juga: JPMorgan Peringkatkan Skandal Dana Investasi Turki Bisa Tekan Ekonomi Kuartal IV

Di Wall Street, meredanya ekspektasi mengenai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat turut mendorong saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti indeks real estat S&P 500 yang naik 0,4% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 yang naik 0,9%—mencatatkan kenaikan harian terbesar dalam sebulan.

Indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan di Wall Street dengan kenaikan 1,2%, bertambah 319,27 poin menjadi 27.190,86.

Dow Jones Industrial Average naik 250,40 poin (0,5%) menjadi 51.176,96. Sementara S&P 500 naik 56,27 poin (0,7%) menjadi 7.722,72. Dalam sepekan, S&P 500 turun 0,27%, Nasdaq naik 0,45%, dan Dow turun 1,26%.

Indeks saham global MSCI naik 7,01 poin (0,6%) menjadi 1.140,27. Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup menguat 0,75%.

Nilai tukar dolar melemah terhadap euro dan yen. Euro terakhir tercatat naik 0,16% di level US$ 1,1259. Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,18% ke posisi 157,79.

Aksi Jual Obligasi

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) sempat turun setelah rilis data ketenagakerjaan AS, namun kemudian kembali naik pada hari yang sama.

Sejumlah investor menilai bahwa laporan ketenagakerjaan tersebut tidak cukup lemah untuk menghilangkan peluang The Fed menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Pasar obligasi global terus mengalami aksi jual dalam beberapa minggu terakhir seiring konflik AS-Israel dengan Iran yang mendorong kenaikan harga energi, memperumit prospek inflasi, dan semakin membebani keuangan publik yang sudah tertekan. Imbal hasil (yield) obligasi acuan AS tenor 10 tahun menutup bulan September dengan kenaikan kuartalan terbesar sejak tahun 1994.

Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 4,72 basis poin menjadi 5,281%, sementara imbal hasil obligasi tenor 2 tahun—yang biasanya bergerak seirama dengan ekspektasi suku bunga The Fed—naik 3,98 basis poin menjadi 4,827%.

Untuk pekan ini, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di jalur kenaikan sebesar 10 basis poin, yang akan menandai kenaikan mingguan kelima berturut-turut.

Baca Juga: G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Minyak dan Diesel dari Cadangan Darurat

Perdagangan pada hari Jumat tetap fluktuatif di pasar obligasi pemerintah Eropa, dengan selisih antara imbal hasil obligasi tenor 10 tahun Jerman dan Prancis mencapai tingkat terlebar sejak krisis utang zona euro tahun 2011.

Di luar negeri, imbal hasil obligasi Jerman tenor 2 tahun terakhir stabil di angka 3,05%, setelah sempat bergerak di kisaran terendah sesi 2,943% dan tertinggi 3,063%.

Sementara imbal hasil obligasi Prancis tenor 2 tahun naik sekitar 4 basis poin menjadi 3,73%, setelah sebelumnya sempat mencapai 3,84%. Imbal hasil obligasi Italia tenor 2 tahun turun 7 basis poin menjadi 3,547%.

Pekan ini, imbal hasil obligasi Jerman tenor 2 tahun telah turun hampir seperempat poin, sedangkan imbal hasil obligasi Prancis tenor 2 tahun naik hampir 14 basis poin.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×