kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Singapura dan Malaysia menunda proyek kereta api cepat


Selasa, 21 Mei 2019 / 19:35 WIB


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Singapura dan Malaysia telah sepakat untuk menunda pembangunan proyek kereta api bernilai miliaran dollar Amerika Serikat (AS) yang menghubungkan negara-kota dengan Malaysia Selatan bagian Johor.

Penangguhan tersebut menandai penundaan dalam proyek lain sejak Pemerintah baru, Malaysia memang dari tahun lalu berjanji untuk menghemat keuangan dan meninjau kesepakatan-kesepakatan besar.

Para Menteri mengumumkan pada konferensi pers di Singapura yang dimuat Reuters, Selasa (21/5) bahwa penundaan akan berlangsung sampai 30 September 2019. Pihak Malaysia juga bersedia membayar kompensasi ke Singapura untuk biaya yang gagal.

"Jika pada 30 September 2019, Malaysia tidak melanjutkan proyek RTS (Rapid Transit System), Malaysia juga akan menanggung biaya yang disepakati oleh Singapura," ujar Khan Boon Wan dan Anthony Loke dalam pernyataan resminya.

Ribuan warga Malaysia memang kerap pulang-pergi ke Singapura, terutama kalangan menengah atas untuk keperluan bekerja dan sekolah. Sistem transit ini dijadwalkan beroperasi pada tahun 2025, dirancang untuk mengangkut 10.000 penumpang per jam di setiap arah, lebih dari 30 kali lebih banyak daripada kereta api biasa.

"Ini tidak berarti bahwa kami mengakhiri proyek," kata Loke. Pihaknya hanya ingin mengevaluasi proyek lebih lanjut agar bisa dilaksanakan lebih efektif.

Kedua negara tetangga ini tahun lalu juga menangguhkan proyek kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan Singapura ke ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, yang diperkirakan oleh para analis menelan biaya sekitar US$ 17 miliar.




TERBARU

[X]
×