Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Singapura berencana menambah lima pembangkit listrik berbahan bakar gas untuk meningkatkan kapasitas pembangkitan listrik sekitar 26% pada awal dekade 2030-an.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan listrik, terutama dari industri semikonduktor, pusat data, dan kendaraan listrik.
Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng mengatakan, penambahan pembangkit tersebut merupakan bagian dari rencana lima tahun Energy Market Authority (EMA), regulator energi Singapura, untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik sekaligus memperkuat ketahanan energi negara tersebut.
Baca Juga: Kapasitas Listrik IWIP dan IMIP Capai 15,9 GW, DEN Minta Integrasi PLTU Captive
Saat ini, kapasitas pembangkitan listrik Singapura mencapai sekitar 12 gigawatt (GW). Dengan tambahan lima pembangkit baru, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat sekitar 26% pada awal dekade mendatang.
EMA tengah mengevaluasi proposal proyek-proyek pembangkit gas tersebut. Seluruh pembangkit ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.
Jika permintaan listrik terus tumbuh kuat, EMA juga akan membuka tender tambahan untuk pembangunan pembangkit dalam lima tahun ke depan.
Kebutuhan penambahan kapasitas ini sejalan dengan proyeksi kenaikan permintaan listrik Singapura. Pada Agustus 2026, beban puncak listrik mencapai 8,6 GW.
Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 9,9 GW hingga 13 GW pada 2031, didorong oleh ekspansi industri semikonduktor, pusat data, dan penggunaan kendaraan listrik.
Baca Juga: Kebutuhan Listrik IWIP dan IMIP Jumbo, Investor Pilih Bangun Pembangkit Sendiri
“Rencana ini merupakan bagian dari upaya memenuhi pertumbuhan permintaan dan meningkatkan ketahanan energi,” demikian garis besar kebijakan yang disampaikan Tan dalam konferensi Singapore International Energy Week pada Senin (26/10/2026).
Selain membangun pembangkit baru, Singapura juga memperkuat infrastruktur gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Kapasitas regasifikasi LNG akan ditingkatkan dari 10 juta ton per tahun menjadi 15 juta ton per tahun setelah terminal kedua di Jurong Port mulai beroperasi pada 2030.
Penguatan pasokan gas menjadi penting karena gas alam saat ini memasok sekitar 95% kebutuhan listrik Singapura.
Di sisi jaringan, pemerintah Singapura memperkirakan investasi hingga S$ 5,3 miliar atau sekitar US$ 4,15 miliar untuk jaringan listrik selama periode 2025–2029.
Investasi tersebut mencakup pembangunan tujuh gardu induk transmisi baru yang ditargetkan selesai pada 2031, meningkat dari empat gardu induk dalam lima tahun sebelumnya.
Singapura juga memperluas koneksi listrik lintas negara. Survei bawah laut untuk pembangunan interkoneksi kedua dengan Semenanjung Malaysia telah dimulai pada Oktober ini.
Baca Juga: Gas ke Singapura Dipangkas, SKK Migas Ungkap untuk Perkuat Listrik Batam-Sumatra
Jalur baru tersebut ditargetkan menambah kapasitas interkoneksi hingga 2 GW pada 2030, di luar koneksi yang sudah ada dengan kapasitas 1 GW.
Upaya diversifikasi pasokan juga dilakukan melalui pengembangan penyimpanan energi dan tenaga surya. Kapasitas penyimpanan energi ditargetkan meningkat menjadi sedikit di atas 1 gigawatt-jam (GWh) pada 2030, dari sekitar 350 megawatt-jam (MWh) saat ini.
Sementara itu, kapasitas tenaga surya Singapura saat ini mencapai 2,3 gigawatt-peak (GWp). Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut meningkat menjadi 3 GWp pada 2030 dan 4 GWp pada 2035.
Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Singapura tidak hanya mengandalkan pembangunan pembangkit gas untuk memenuhi kenaikan permintaan listrik.
Baca Juga: Listrik IWIP dan IMIP Capai 15,9 GW, Waspadai Dampak Jangka Panjang Bagi Ekspor Nikel
Penguatan jaringan transmisi, peningkatan kapasitas impor energi, penyimpanan energi, dan ekspansi tenaga surya juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga keandalan pasokan listrik dalam jangka panjang.














