Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - STOCKHOLM/BRUSSELS/LONDON. Serangan siber terhadap jaringan supermarket di Eropa meluas pada Senin (2/11/2026).
Peretasan tersebut menyasar sistem pendingin dan pembeku makanan di sejumlah negara, mulai dari Swedia hingga Belgia. Akibatnya, sejumlah toko terpaksa membuang produk makanan yang rusak karena suhu penyimpanan meningkat.
Serangan ini menimpa sejumlah jaringan ritel besar, termasuk Ahold Delhaize dan Colruyt di Belgia serta Luksemburg, juga peritel Swedia ICA dan Coop. Selain itu, jaringan ritel furnitur dan makanan IKEA melaporkan setidaknya satu gerainya di Belgia turut terdampak.
Engla Ingwall, manajer penjualan di salah satu gerai waralaba ICA di Stockholm, mengatakan seluruh produk yang disimpan dalam lemari pendingin dan freezer di tokonya rusak akibat serangan tersebut.
"Segalanya hancur," kata Ingwall kepada Reuters saat mengunjungi tokonya pada Senin.
Ia menjelaskan, serangan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat atau 01.00 GMT, tetapi baru diketahui beberapa jam kemudian.
"Telah terjadi serangan siber dan seluruh freezer kami mencapai suhu 50 derajat Celsius," tambahnya.
Juru bicara ICA mengatakan, perusahaan mengetahui adanya insiden yang berdampak terhadap sejumlah kecil gerai pada malam sebelumnya. Serangan tersebut memengaruhi sistem pendingin dan freezer di toko-toko yang terdampak.
Baca Juga: Binance Klaim Arus Penarikan Dana Normal Usai Peretasan Kripto US$ 6,3 Miliar
Insiden terbaru ini terjadi setelah serangan serupa di Prancis pada bulan lalu. Saat itu, polisi menyatakan peretas mengambil alih kendali unit pendingin di ratusan supermarket sehingga menyebabkan kebakaran dan kerugian akibat makanan yang rusak.
Ahold juga melaporkan insiden keamanan siber kepada polisi pada bulan lalu.
Hingga kini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut. Namun, insiden ini meningkatkan kekhawatiran otoritas Eropa terhadap ancaman hibrida yang menyasar infrastruktur, di tengah meningkatnya ketegangan keamanan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pemerintah Rusia berulang kali membantah terlibat dalam aksi sabotase maupun operasi perang hibrida. Reuters belum dapat memastikan pihak yang berada di balik serangan pada Senin maupun apakah insiden tersebut berkaitan dengan serangan di Prancis.
Juru bicara Pusat Keamanan Siber Belgia, Katrien Eggers, mengatakan identitas pelaku kemungkinan tidak akan pernah diketahui.
"Tidak diketahui siapa yang berada di balik serangan ini, dan mungkin tidak akan pernah bisa dipastikan," ujarnya.
Baca Juga: Orang Terkaya Di Dunia Sebut Menabung Sudah Tak Cocok Di Era AI
Eggers juga menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya jumlah insiden serangan siber, salah satunya karena pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
"Semua sistem teknologi informasi berpotensi rentan, dan AI kini dapat digunakan untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut secara efektif, terutama oleh pelaku yang memiliki kemampuan canggih," katanya.
Sistem Pendingin Supermarket Jadi Sasaran Peretasan
Berbagai perangkat yang sebelumnya sebagian besar beroperasi secara mekanis kini semakin terhubung dengan sistem digital. Mulai dari lemari pendingin, sistem pemanas, kamera pengawas hingga alarm keamanan dapat dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh.
Kondisi tersebut membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan siber untuk menyusup dan mengambil alih kendali perangkat.
Setidaknya sebagian unit pendingin yang terdampak pada Senin menggunakan teknologi pengendalian suhu dari perusahaan Denmark, Danfoss. Perusahaan tersebut juga menjadi sasaran dalam serangan di Prancis bulan lalu.
Danfoss menyatakan telah bekerja sama dengan para pelanggannya untuk menerapkan langkah-langkah perbaikan terhadap sistem yang terdampak.
Komisi Eropa menilai serangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa ancaman digital semakin berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan rantai pasok.
Komisaris Uni Eropa untuk Pertanian, Christophe Hansen, mengatakan serangan tersebut secara sengaja berupaya mengganggu rantai pasok pangan dan merusak kepercayaan konsumen.
"Serangan tersebut merupakan upaya yang disengaja untuk mengganggu rantai pasok pangan dan merusak kepercayaan konsumen terhadapnya. Ini adalah peringatan yang harus kita tanggapi dengan serius," kata Hansen.
"Terjadinya serangan siber ini secara berulang sangat mengkhawatirkan," ujarnya.
Juru bicara Colruyt Group, perusahaan yang mengoperasikan gerai Spar di Belgia melalui sistem waralaba, mengatakan lima tokonya mengalami serangan terhadap sistem pendingin.
Di Irlandia, perusahaan grosir Musgrave menyatakan insiden tersebut memengaruhi sistem di 13 gerai SuperValu. Perusahaan terpaksa menarik sejumlah produk dingin dan beku dari penjualan.
Baca Juga: Harga Emas Tergelincir, Serangan di Timur Tengah Tambah Kekhawatiran Inflasi
"Sistem pemantauan kami memberi peringatan mengenai masalah tersebut dan kami segera mengambil tindakan," kata Musgrave dalam sebuah pernyataan.
"Penyelidikan kami masih berlangsung," tambahnya.
Peneliti perusahaan keamanan siber SentinelOne, Tom Hegel, mengatakan serangan terhadap sistem seperti ini umumnya berkaitan dengan pemerasan, motif politik, atau operasi yang melibatkan negara.
Namun, tidak adanya tuntutan pembayaran dalam sejumlah kasus terbaru mengindikasikan kemungkinan adanya aksi sabotase.
"Ritel merupakan sasaran yang mudah karena jaringan ritel mengoperasikan perangkat pengendali pendingin dalam jumlah sangat besar, sistem manajemen gedung, panel akses pintu, serta perangkat transaksi penjualan," kata Hegel.
Ia menambahkan, pelacakan terhadap pelaku yang menyerang sistem semacam itu bukan perkara mudah.
"Penyerang yang masuk melalui panel kendali yang terekspos hampir tidak meninggalkan jejak apa pun. Seorang remaja dan badan intelijen akan terlihat hampir sama dari sudut pandang pihak yang bertahan."
Carrefour dan IKEA Ikut Terdampak Serangan Siber
Dampak serangan juga dirasakan jaringan supermarket Carrefour. Perusahaan yang mengalami kerugian cukup besar akibat serangan di Prancis bulan lalu itu menyatakan sebanyak 15 dari total 700 gerainya di Belgia terdampak.
IKEA juga mengonfirmasi satu gerainya di Belgia terkena serangan. Perusahaan tidak menutup kemungkinan adanya gangguan di lokasi lainnya.
Sementara itu, jaringan supermarket milik swasta di Swedia, Coop, mengatakan tujuh dari sekitar 800 gerainya terdampak insiden siber yang melibatkan manipulasi tanpa izin terhadap sistem pendingin.
Coop menyebut Danfoss sebagai salah satu pemasok teknologinya.
Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Meluas ke Laut Hitam, NATO Perkuat Pertahanan
Dampak serangan juga dialami De Laet & Van Haver, jaringan toko daging di Belgia. Pendiri sekaligus pemilik perusahaan, Luc De Laet, mengatakan dirinya terbangun pada pukul 03.30 waktu setempat setelah menerima pemberitahuan dari seorang karyawan mengenai masalah pada sistem pendingin.
Ia kemudian bergegas menuju tokonya di selatan Antwerpen dan menemukan suhu lemari pendingin meningkat hingga 18 derajat Celsius.
De Laet memperkirakan serangan tersebut menyebabkan kerugian sekitar 15.000 euro atau setara US$ 16.800 akibat daging yang rusak.
"Ini sangat menakutkan. Mereka meretas sistem yang mencatat suhu dan dapat memprogramnya dari jarak jauh," kata De Laet kepada Reuters.
Ia mengaku kesal karena harus membuang begitu banyak produk makanan akibat serangan tersebut.
De Laet menduga para peretas berupaya mengguncang stabilitas ekonomi Eropa. Ia mengaku telah menghubungi polisi, meskipun belum mengetahui apakah penyelidikan resmi telah dimulai.
"Saya hanya punya dua kata untuk mereka: bangunlah, tolong, karena ada sesuatu yang sedang terjadi," ujarnya.














