Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Taiwan menyatakan ada kemajuan dalam pembicaraan untuk membeli gas alam cair (LNG) dari Alaska LNG dan akan berinvestasi sebesar US$ 4,4 miliar dalam proyek tersebut, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Taipei akan membeli 30% dari hasil produksinya.
Mengutip Reuters, Kamis (15/10/2026), Kementerian Ekonomi Taiwan menyatakan bahwa perusahaan energi milik negara, CPC Corp, telah mencapai kemajuan signifikan dengan pengembang proyek setelah hampir satu setengah tahun melakukan negosiasi dan evaluasi.
Proyek Alaska LNG, yang diperkirakan menelan biaya antara US$ 44,5 miliar hingga US$ 54,5 miliar, akan memproduksi 20 juta metrik ton per tahun dan pembahasannya telah berlangsung selama beberapa dekade.
Banyak pihak di industri ini meragukan kelayakan komersialnya karena proyek ini memerlukan jalur pipa yang panjang untuk mengangkut gas dari wilayah terpencil North Slope di Alaska serta modal yang sangat besar; menurut para analis, biayanya bisa lebih dari dua kali lipat dibandingkan fasilitas serupa di wilayah Gulf Coast AS.
Baca Juga: Houthi Serang Arab Lagi, Sejumlah Negara Tunda Perjalanan Umrah, Bagaimana Indonesia?
Berdasarkan rencana tersebut, CPC akan membeli 6 juta ton per tahun dari Alaska LNG begitu produksi dimulai—sesuai dengan surat pernyataan minat (letter of intent) yang ditandatangani tahun lalu—dan akan berinvestasi hingga US$ 4,4 miliar dalam pengembangan proyek tersebut, ungkap kementerian itu.
"Pengaturan investasi khusus, kepemilikan saham, dan ketentuan terkait akan ditetapkan melalui negosiasi lanjutan serta prosedur kontrak komersial," demikian pernyataan kementerian tersebut.
Kementerian tidak menyebutkan apakah perjanjian jual-beli yang mengikat telah ditandatangani. Trump berada di Alaska untuk berkampanye bagi Senator Partai Republik Dan Sullivan, yang sedang bersaing ketat melawan kandidat Demokrat Mary Peltola menjelang pemilihan umum kongres pada 3 November.
Dalam unggahan lanjutan di Truth Social pada hari Rabu, Trump menyebut proyek pipa LNG Alaska sebagai "Proyek Pemerintah Federal AS" dan menyatakan bahwa komitmen Taiwan untuk membeli hasil produksi proyek tersebut selama 20 tahun ke depan akan bernilai antara US$70 miliar hingga US$80 miliar.
Pejabat Taiwan pada bulan Februari mengatakan bahwa mereka akan meningkatkan pembelian gas alam AS hingga mencapai sekitar sepertiga dari total pasokan impor pulau tersebut tahun ini, sekaligus mengurangi pembelian dari negara lain, sebagai bagian dari upaya untuk memperkecil surplus perdagangan yang sangat besar yang telah memicu kemarahan Washington.
Upaya Memasok Pasar Asia
Tahun lalu, Sekretaris Jenderal Kantor Kepresidenan Taiwan, Pan Men-an, mengunjungi lokasi proyek LNG yang diusulkan di Alaska tersebut—sebuah proyek yang gencar dipromosikan oleh pemerintahan Trump kepada sekutu-sekutunya di Asia sebagai salah satu opsi pasokan.
Sejauh ini, proyek LNG Alaska telah mengamankan kesepakatan untuk volume 13 juta ton per tahun dari pembeli di Asia dan perusahaan energi besar asal Prancis, TotalEnergies. Proyek ini masih membutuhkan kesepakatan untuk tambahan 3 juta ton dan harus mengubahnya menjadi kontrak yang mengikat guna mendapatkan pendanaan bagi proyek tersebut.
Proyek ini akan memberikan akses langsung bagi gas alam cair (LNG) produksi AS ke pasar Asia, termasuk Taiwan, tanpa harus melewati Terusan Panama, sehingga dapat memangkas waktu dan biaya pengiriman.
Pengembang proyek menargetkan untuk mengambil keputusan investasi final terkait pipa sepanjang 800 mil (1.287 km) tersebut pada tahun 2026, diikuti dengan keputusan untuk fasilitas ekspor pada tahun 2027, dengan target ekspor LNG perdana pada tahun 2031.
Baca Juga: Michelle Bowman Sebut The Fed Belum Perlu Terburu-buru Naikkan Suku Bunga
Bulan lalu, Trump menyatakan bahwa Korea Selatan telah sepakat untuk berinvestasi dalam proyek LNG Alaska, namun pihak Seoul mengatakan bahwa kesepakatan tersebut belum bersifat final.
Menurut data Kpler, Taiwan merupakan importir LNG terbesar kelima pada tahun lalu—di bawah China, Jepang, Korea Selatan, dan India—dengan volume impor mencapai 23,8 juta ton bahan bakar bersuhu sangat rendah tersebut, yang sebagian besar didatangkan dari Australia dan Qatar.
Kementerian Ekonomi Taiwan menyatakan pada hari Rabu bahwa jika proyek tersebut berjalan sesuai jadwal, pasokan tambahan gas alam ke Taiwan dapat dimulai paling cepat pada tahun 2032.














