Taliban meminta para imam masjid serukan persatuan di Afghanistan saat salat Jumat

Jumat, 20 Agustus 2021 | 12:21 WIB Sumber: Reuters
Taliban meminta para imam masjid serukan persatuan di Afghanistan saat salat Jumat

ILUSTRASI. Orang-orang membawa bendera nasional pada protes yang diadakan selama Hari Kemerdekaan Afghanistan di Kabul, 19 Agustus.


KONTAN.CO.ID - KABUL. Taliban mendorong para imam masjid di seluruh Afghanistan untuk menyerukan persatuan pada ibadah salat Jumat pertama sejak kelompok itu berkuasa.

Sejak menguasai Afghanistan pada Minggu (15/8), Taliban telah tampil dengan citra yang lebih moderat dengan mendorong perdamaian serta menegaskan tidak akan melakukan balas dendam ke pihak manapun.

Pada ibadah salat Jumat pekan ini, Taliban mendesak para imam untuk menyerukan perdamaian di hadapan jamaah dan membujuk orang agar tidak meninggalkan Afghanistan.

Taliban menjadi sorotan setelah berkomitmen untuk menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam yang berkaitan dengan hak untuk bekerja dan menempuh pendidikan.

Baca Juga: Mengintip harta karun di Afganistan bernilai triliunan dolar AS yang kini diincar

Saat berkuasa pada periode 1996-2001, Taliban sangat membatasi hak-hak perempuan, melakukan eksekusi di depan umum, dan meledakkan patung-patung Buddha kuno. 

Meskipun telah mencoba mengubah citranya, masih banyak penduduk Afghanistan yang menyatakan penolakannya kepada kelompok tersebut.

Unjuk rasa sempat pecah pada Kamis (19/8), bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan Afghanistan. Kerumunan orang di Kabul terlihat mengibarkan bendera nasional Afghanistan.

Dilansir dari Reuters, beberapa demonstran di titik lain terlihat merobek bendera putih Taliban. Tapi, beberapa orang dilaporkan tewas ketika gerilyawan Taliban menembaki kerumunan di Kota Asadabad.

Saksi mata lain melaporkan ada suara tembakan di dekat titik kumpul di Kabul. Tembakan tersebut diduga merupakan tembakan peringatan ke udaraa dari Taliban.

Selanjutnya: Taliban dan mantan presiden Afghanistan mulai membahas pembentukan pemerintahan baru

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru