Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menegaskan bahwa keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk menahan suku bunga acuan tidak dipengaruhi kepentingan politik.
Pernyataan ini disampaikan di tengah kritik Presiden AS Donald Trump yang menuding sejumlah pejabat The Fed bersikap partisan dan berseberangan dengan pemerintahannya.
Dalam konferensi pers pada Rabu (28/10/2026), Warsh mengatakan bahwa dirinya merasa terhormat memimpin para pembuat kebijakan moneter The Fed. Pernyataan tersebut disampaikan setelah bank sentral AS mengakhiri rapat kebijakan selama dua hari dengan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%.
“Kami baru saja melewati pertengkaran keluarga yang cukup intens,” ujar Warsh kepada wartawan, merujuk pada dinamika pembahasan dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC).
“Saya pikir kami telah mengambil keputusan kebijakan yang tepat untuk saat ini, dan saya merasa terhormat berada di sini serta terhormat menjadi ketua kelompok ini,” katanya.
Warsh juga menegaskan bahwa pertimbangan politik tidak memengaruhi keputusan suku bunga tersebut.
Baca Juga: Per September, Produksi Tembaga Glencore Melesat 3% Jadi 598.600 Metrik Ton
“Politik tidak berperan dalam keputusan itu. Saya baru saja menghabiskan dua hari bersama rekan-rekan saya di lantai atas. Saya tidak mendengar satu pun pembicaraan tentang politik. Saya juga tidak mendengar rujukan mengenai politik, pemilu, ataupun apa yang akan terjadi dalam pekan depan,” ujar Warsh.
Pemilu AS Jadi Sorotan di Tengah Kebijakan Suku Bunga
Pernyataan Warsh muncul menjelang pemilihan umum AS pada 3 November yang akan menentukan apakah Partai Republik pimpinan Trump mampu mempertahankan mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan Senat.
Persoalan keterjangkauan biaya hidup menjadi salah satu perhatian utama pemilih. Inflasi yang masih berlangsung dan tingginya biaya pinjaman turut memengaruhi pertimbangan masyarakat menjelang pemungutan suara.
Warsh mengatakan, dalam beberapa pekan mendatang, The Fed akan memperoleh tambahan data ekonomi yang dapat membantu para pembuat kebijakan menentukan arah suku bunga pada Desember.
Menurut dia, berbagai informasi baru tersebut akan membuat The Fed berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengambil keputusan. Meski periode mendatang akan dipenuhi data ekonomi, Warsh menegaskan bahwa proses pengambilan kebijakan tersebut tidak berkaitan dengan politik.
Selama masa jabatan pertamanya maupun periode keduanya di Gedung Putih, Trump berulang kali mengkritik The Fed karena dinilai tidak cukup agresif memangkas suku bunga. Setelah keputusan The Fed menaikkan suku bunga pada September, Trump bahkan menyebut sejumlah kolega Warsh bersikap “bermusuhan” dan “partisan”.
Namun, Trump sejauh ini tidak melancarkan serangan langsung terhadap Warsh seperti yang sebelumnya kerap dilakukannya terhadap mantan Ketua The Fed Jerome Powell.
Pada Rabu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa dirinya dan Trump memiliki keyakinan besar terhadap kepemimpinan Warsh.
Baca Juga: Truth Social Jual Akses Cepat Unggahan Trump hingga US$ 100.000 per Bulan
“Kami berdua sangat yakin bahwa Ketua Warsh akan mengarahkan The Fed untuk menemukan kombinasi yang tepat antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi,” kata Bessent.
Trump sendiri mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya belum berbicara dengan Warsh mengenai keputusan bank sentral tersebut.
Warsh Hadapi Tekanan untuk Menjaga Independensi The Fed
Meski demikian, konferensi pers Warsh memperlihatkan tantangan yang dihadapinya dalam menjaga hubungan dengan Trump sekaligus meyakinkan pasar keuangan bahwa The Fed tetap berkomitmen mengendalikan inflasi.
Pemerintahan Trump terus menyuarakan penolakan terhadap kenaikan suku bunga. Dalam wawancara dengan CNBC pada Rabu, Bessent mengatakan sebagian anggota Dewan Gubernur The Fed menilai bahwa membiarkan inflasi bertahan tinggi dalam waktu lama dapat mencerminkan kurangnya kemauan untuk mengatasinya. Namun, ia menilai kondisi tersebut tidak harus demikian.
Di sisi lain, Gubernur The Fed Lisa Cook menjadi salah satu dari dua pejabat yang berbeda pendapat dalam keputusan terbaru. Cook memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, sementara 10 pejabat pembuat kebijakan lainnya sepakat mempertahankan suku bunga.
Cook juga menjadi sasaran upaya Trump untuk memberhentikannya selama lebih dari setahun terakhir. Proses administratif di Gedung Putih terkait upaya tersebut berpotensi berlangsung pada 5 November.
Selain itu, Trump meminta Powell mengosongkan kursinya di Dewan Gubernur The Fed. Kedua persoalan tersebut dinilai memiliki implikasi besar terhadap independensi The Fed sebagai lembaga yang bertanggung jawab menentukan kebijakan moneter.
Ketika ditanya apakah dirinya akan terlibat dalam proses pemerintahan terhadap Cook, Warsh menjawab, “Sepengetahuan saya, tidak.”
Inflasi Jadi Tantangan bagi Ketua The Fed yang Baru
Warsh dipilih Trump untuk menggantikan Powell, yang sebelumnya juga ditunjuk oleh Trump untuk memimpin The Fed. Namun, Powell kemudian menghadapi perselisihan dengan presiden karena tidak mengikuti arahan Trump terkait kebijakan moneter.
Baca Juga: Harga Emas Spot Anjlok 1%, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Saat Warsh mulai memimpin The Fed pada akhir Mei, Trump menyatakan keyakinannya bahwa ketua baru tersebut akan menurunkan suku bunga. Trump bahkan mengatakan tidak akan memilih Warsh apabila tidak meyakini bahwa ia akan mengambil langkah tersebut.
Akan tetapi, inflasi yang terus bertahan tinggi serta keraguan pasar terhadap independensi Warsh mendorong ketua baru The Fed itu mengambil sikap tegas dalam mempertahankan target inflasi sebesar 2%.
Keputusan menaikkan suku bunga pada September, disertai kemungkinan pengetatan lebih lanjut, menunjukkan bahwa Warsh berupaya menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas kebijakan moneter.
Sejauh ini, Trump masih memberikan kelonggaran kepada Warsh dan mengarahkan kritiknya terhadap kenaikan suku bunga kepada sejumlah gubernur The Fed yang ditunjuk oleh mantan Presiden AS Joe Biden, termasuk Lisa Cook.
Situasi tersebut menempatkan Warsh dalam posisi sulit. Di satu sisi, ia menghadapi tekanan politik agar suku bunga diturunkan. Di sisi lain, ia harus menjaga kredibilitas The Fed dalam mengendalikan inflasi dan memastikan bahwa keputusan moneter tetap didasarkan pada kondisi ekonomi, bukan kepentingan politik.














