kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Trump Ancam Tarif Baru, Ini yang Tengah Diincar Tiongkok untuk Mengalahkannya


Sabtu, 14 Desember 2024 / 07:48 WIB
ILUSTRASI. Sejumlah analis menilai, saat Donald Trump meningkatkan ancaman tarifnya terhadap Tiongkok, Beijing mulai bergerak untuk mengalahkannya. REUTERS/Florence Lo


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Sejumlah analis menilai, saat Donald Trump meningkatkan ancaman tarifnya terhadap Tiongkok, Beijing bergerak untuk mengalahkan presiden AS berikutnya itu dengan pembatasannya sendiri sehingga bisa membawa Washington ke meja perundingan menjelang perang dagang besar-besaran.

Mengutip Reuters, berbekal pelajaran dari perang dagang terakhir selama masa jabatan pertama Trump, Tiongkok berupaya mengumpulkan alat tawar-menawar untuk memulai pembicaraan dengan pemerintahan AS yang baru mengenai aspek-aspek hubungan bilateral yang kontroversial.

Ini termasuk perdagangan dan investasi, serta sains dan teknologi. Tiongkok juga khawatir tentang dampak buruk dari tarif tambahan terhadap ekonominya yang sudah rapuh.

Minggu ini, Tiongkok meluncurkan penyelidikan terhadap raksasa chip AS Nvidia atas apa yang diklaimnya sebagai dugaan pelanggaran antimonopoli, yang menyusul larangannya terhadap ekspor mineral langka ke AS.

"Kita harus melihat ini sebagai tawaran pembukaan dalam apa yang kemungkinan besar pada akhirnya akan berubah menjadi negosiasi dengan AS, bukan sekadar pengenaan tarif dan semua pihak akan pergi begitu saja," kata Kepala Ekonom Asia HSBC Fred Neumann.

Baca Juga: Tiongkok-Filipina Memanas Lagi di Laut China Selatan

Sementara, George Magnus, rekan peneliti di Pusat Tiongkok Universitas Oxford menilai, Tiongkok lebih siap menghadapi hampir semua tarif, kecuali "pengumuman Armageddon" berupa tarif 60% untuk semua barang Tiongkok.

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu kini secara global mendominasi sektor-sektor seperti kendaraan listrik dan energi hijau, dan tidak terlalu membutuhkan jet Boeing dan mobil besar berbahan bakar bensin yang dibelinya kembali pada tahun 2017, setelah menemukan pengganti seperti pesawat Airbus dan Comac C919 miliknya sendiri.

Namun, Tiongkok masih jauh dari kata swasembada.

Perang dagang baru dengan ekonomi terbesar di dunia itu akan lebih merugikan Tiongkok. Menurut para analis, hal ini dikarenakan Washington dapat mengenakan bea masuk yang lebih besar atas barang-barangnya dan semakin menjauhkan Tiongkok dari rantai pasokannya.

Baca Juga: TikTok Terancam Diblokir di AS Setelah Permohonan Darurat Ditolak Pengadilan




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×