kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.612.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.196   -118,88   -1,88%
  • KOMPAS100 811   -18,90   -2,28%
  • LQ45 615   -12,33   -1,97%
  • ISSI 214   -4,08   -1,87%
  • IDX30 346   -6,54   -1,86%
  • IDXHIDIV20 428   -6,37   -1,47%
  • IDX80 93   -2,15   -2,27%
  • IDXV30 117   -1,73   -1,46%
  • IDXQ30 111   -1,86   -1,65%

Trump: Kesepakatan Nuklir Batal jika Saudi Tak Gabung Abraham Accords


Sabtu, 25 Juli 2026 / 09:25 WIB
Trump: Kesepakatan Nuklir Batal jika Saudi Tak Gabung Abraham Accords
ILUSTRASI. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan melanjutkan kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi (via REUTERS/SAUL LOEB)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan melanjutkan kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi apabila kerajaan tersebut tidak menyetujui normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui Abraham Accords.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Jumat (24/7/2026) waktu setempat, sehari setelah Departemen Energi Amerika Serikat mengumumkan penandatanganan kesepakatan awal pengembangan reaktor nuklir komersial pertama di Arab Saudi.

Departemen Energi AS pada Rabu (22/7/2026) menyatakan Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk mengembangkan reaktor nuklir komersial pertama di negara penghasil minyak tersebut. Selanjutnya, dokumen itu akan diajukan ke Kongres AS untuk ditinjau.

Trump diketahui telah mendorong tercapainya kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi sejak masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

Sebelumnya, pemerintahan Presiden Joe Biden juga berupaya mewujudkan kesepakatan serupa. Namun, pemerintah Biden mengaitkan kerja sama tersebut dengan Abraham Accords, yaitu kesepakatan yang bertujuan menormalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel.

Baca Juga: Korea Selatan Gandeng Nvidia hingga OpenAI, Bidik Jadi Kekuatan AI Global

Hingga kini, Arab Saudi belum bergabung dalam Abraham Accords karena kerajaan tersebut tetap mensyaratkan adanya jalur yang tidak dapat dibatalkan menuju pembentukan negara Palestina sebelum memberikan pengakuan resmi kepada Israel.

Pada Kamis (23/7), Trump secara terbuka menambahkan syarat baru melalui unggahan di media sosial. Ia menyatakan Arab Saudi harus bergabung dalam Abraham Accords agar kerja sama nuklir sipil dapat dilanjutkan.

Saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Jumat, Trump kembali menegaskan syarat tersebut.

"Untuk dapat mewujudkan kerja sama itu, mereka harus menjadi anggota Abraham Accords," kata Trump kepada wartawan.

Trump juga mengatakan dirinya tidak membahas persyaratan tersebut dengan Menteri Energi Chris Wright sebelum penandatanganan kesepakatan.

"Namun hal itu sejak awal sudah dipahami. Chris mengetahuinya, dan Arab Saudi juga mengetahuinya," ujar Trump.

Hingga saat ini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait syarat tambahan yang diajukan Amerika Serikat dalam kesepakatan tersebut.

Baca Juga: SpaceX Uji Starship Ke-13, Berhasil Lepaskan 20 Satelit Starlink Generasi Baru

Meski demikian, Trump optimistis Arab Saudi pada akhirnya akan bergabung dalam Abraham Accords.

"Pada akhirnya mereka akan bergabung, dan kemudian mereka akan menjalankan program nuklir sipil mereka," kata Trump.

Berpotensi Menguntungkan Westinghouse

Kesepakatan nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi dinilai akan memberikan keuntungan bagi perusahaan teknologi nuklir Westinghouse.

Westinghouse dimiliki bersama oleh perusahaan Kanada Cameco dan Brookfield Asset Management. Jika kerja sama tersebut terealisasi, perusahaan itu diperkirakan akan menjadi salah satu pihak yang memperoleh manfaat dari proyek pembangunan reaktor nuklir komersial pertama di Arab Saudi.




TERBARU

[X]
×