Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - SAO PAULO. Perusahaan tambang Brasil, Vale, menghentikan operasional sejumlah unit tambangnya setelah terjadi luapan air di lokasi tersebut. Penghentian ini diperkirakan berdampak pada sekitar 2% dari proyeksi produksi bijih besi Vale tahun 2026, berdasarkan analisis para analis.
Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Senin malam waktu setempat atau Selasa dini hari waktu Indonesia Barat, Vale menyatakan pemerintah Kota Congonhas memerintahkan penghentian izin operasi unit Fabrica dan Viga, serta penerapan langkah-langkah darurat dan pengendalian setelah terjadinya luapan air. Insiden tersebut juga memengaruhi area milik perusahaan baja CSN dan menyebabkan kerusakan pada aliran sungai, menurut otoritas setempat.
Luapan air terjadi pada Minggu di dua lokasi terpisah namun berdekatan, yang sama-sama terdampak hujan lebat di negara bagian Minas Gerais, Brasil.
Baca Juga: Emas Nyaris US$5.100! Ketidakpastian Trump Picu Lonjakan Safe Haven
Meski demikian, Vale menegaskan kembali target produksi bijih besi tahun 2026 sebesar 335 juta hingga 345 juta metrik ton. Namun, para analis menilai penghentian operasi ini berdampak negatif karena kedua unit tersebut memiliki estimasi produksi gabungan sekitar 8 juta ton per tahun.
Analis RBC Europe menyebut masih belum jelas penyebab luapan air tersebut, durasi penghentian izin operasi, serta potensi biaya pemulihan yang harus ditanggung Vale.
Saham Vale tercatat ditutup melemah lebih dari 2% pada perdagangan Senin waktu setempat.
Sementara itu, analis Itau BBA menilai kejadian ini berpotensi menekan kinerja saham Vale dalam jangka pendek. Namun, mereka menegaskan dampaknya lebih disebabkan oleh peningkatan pengawasan regulator dan risiko pemberitaan negatif, bukan karena perubahan risiko operasional struktural perusahaan.
Menurut mereka, eksposur kapasitas produksi masih dapat dikelola, terutama karena laju produksi pada kuartal pertama biasanya lebih rendah akibat tingginya curah hujan.
Vale berada di bawah pengawasan ketat sejak dua bencana besar bendungan tailing di Minas Gerais pada dekade 2010-an.
Insiden terbaru ini terjadi bertepatan dengan peringatan tragedi jebolnya bendungan Brumadinho pada 2019, yang menewaskan sekitar 270 orang dan menghancurkan sungai serta komunitas di sekitarnya akibat longsoran lumpur limbah tambang.
Baca Juga: Demam Emas, Pembeli dan Penjual di China Masih Borong Emas Meski Harga Cetak Rekor
Vale menegaskan tidak ada keterkaitan antara insiden terbaru dengan bendungan tailing yang dimilikinya di wilayah tersebut. Perusahaan menyatakan seluruh bendungan berada dalam kondisi stabil dan aman, serta memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
“Perusahaan telah menghentikan operasi di unit-unit terkait dan akan menindaklanjuti seluruh langkah yang diwajibkan, serta bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas berwenang,” ujar Vale dalam pernyataannya.













