Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (22/9/2026).
Pelaku pasar menilai Bank of Japan (BOJ) kesulitan mengejar perubahan kebijakan bank sentral global yang semakin hawkish, sehingga kesenjangan suku bunga Jepang dengan negara-negara maju lainnya masih lebar.
Mengutip Reuters, yen diperdagangkan di sekitar 157,33 per dolar AS pada Selasa pagi. Pergerakan yen cenderung terbatas karena pasar Jepang masih libur serta adanya kewaspadaan terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik Tipis Selasa (22/9) Jelang Potensi Pertemuan AS-Iran di PBB
Kekhawatiran tersebut muncul setelah surat kabar Nikkei melaporkan Jepang melakukan pengecekan terhadap kurs dolar-yen pada Jumat lalu.
Langkah semacam itu kerap menjadi indikasi awal sebelum otoritas melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Tekanan terhadap yen kembali menguat setelah BOJ menaikkan suku bunga pada Jumat. Namun, keputusan tersebut disertai dua suara berbeda yang menginginkan kebijakan lebih longgar.
Kondisi tersebut berbeda dengan Federal Reserve (The Fed) yang juga menaikkan suku bunga pada pekan lalu, tetapi memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish. Sejumlah bank sentral utama lainnya juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Ekonom Asia senior Union Bancaire Privée Carlos Casanova mengatakan, selama BOJ tidak menaikkan suku bunga secara lebih cepat dibandingkan The Fed, selisih suku bunga AS-Jepang sekitar 275 basis poin akan terus mendukung strategi carry trade yang menggunakan yen sebagai sumber pendanaan.
"Kami memperkirakan dolar-yen naik ke 160 pada akhir tahun sebelum kemudian menguat secara moderat ke 156 pada pertengahan 2027," kata Casanova dalam catatan kepada klien.
Baca Juga: Vietnam-AS Capai Kemajuan Negosiasi Dagang, Kesepakatan Segera Diteken
Pasar tunggu arah suku bunga BOJ dan The Fed
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 30% bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga acuan jangka pendek menjadi 1,5% pada Oktober.
Sementara itu, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4%-4,25% diperkirakan sekitar 55%.
Perbedaan ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat yen tetap berada di bawah tekanan. Suku bunga yang lebih tinggi di AS dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus mendorong investor mempertahankan strategi carry trade.
Di pasar valuta asing lainnya, euro relatif stabil di US$1,1467. Dolar Australia berada di sekitar US$0,7120, sedangkan poundsterling diperdagangkan di sekitar US$1,3372.
Dolar Selandia Baru juga masih berada di dekat level terendah dalam beberapa bulan, yakni sekitar US$0,5708. Suku bunga Selandia Baru sebesar 2,75% masih jauh di bawah sejumlah negara maju lainnya.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Tipis ke US$4.357 Selasa (22/9), Yield US Treasury Jadi Penopang
Analis ANZ menilai, pergerakan dolar Selandia Baru masih lemah karena mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi mendapat keuntungan dari strategi carry trade.
Bahkan jika pasar memperkirakan sekitar lima kali kenaikan suku bunga lagi di Selandia Baru, tingkat suku bunga tersebut masih belum mendekati suku bunga The Fed maupun Reserve Bank of Australia (RBA), yang keduanya diperkirakan masih akan meningkat.














