Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) melandai pada Selasa (22/9/2026), karena investor menimbang penurunan harga minyak terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).
Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun, yang biasanya bergerak seirama dengan ekspektasi suku bunga The Fed, sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam dua tahun di angka 4,7879%. Terakhir, imbal hasil ini turun 2,5 basis poin menjadi 4,728%.
Harga minyak ditutup turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan di PBB bahwa para pejabat AS telah melakukan pertemuan tiga jam yang "sangat baik" pada hari Selasa dengan delegasi Iran.
Dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB, Trump juga menyatakan keyakinannya, AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm) digelar pada awal November.
Baca Juga: Daftar CEO Perusahaan AS yang Diundang Trump Ikut Jamuan Makan dengan Xi Jinping
Harga minyak telah melonjak sejak dimulainya konflik AS-Israel dengan Iran, yang memicu kekhawatiran mengenai inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi.
Pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 guna mengendalikan inflasi. Menurut data CME FedWatch, para pelaku pasar melihat adanya peluang sekitar 55% untuk kenaikan suku bunga lanjutan saat bank sentral AS tersebut mengadakan pertemuan berikutnya pada bulan Oktober 2026.
Presiden The Fed Richmond, Tom Barkin mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed—serta potensi kenaikan lanjutan—dapat meredam ekspektasi inflasi dunia usaha dan menahan laju kenaikan harga saat perusahaan menyusun anggaran untuk tahun mendatang.
Presiden The Fed Boston, Susan Collins, menulis di LinkedIn, ia mendukung keputusan bank sentral AS pekan lalu untuk menaikkan suku bunga guna mengantisipasi risiko inflasi di masa depan yang mungkin melampaui target 2%.
Imbal hasil (yield) obligasi acuan AS tenor 10 tahun bertahan di bawah level 5% setelah sempat mencapai 5,041% pekan lalu, angka tertinggi sejak 2007.
"Pekan lalu terjadi banyak pergerakan pada imbal hasil dan banyak peristiwa yang perlu dicermati," ujar Jim Barnes, direktur pendapatan tetap (fixed income) di Bryn Mawr Trust seperti dikutip Reuters.
"Sejauh pekan ini, situasinya lebih tenang. Imbal hasil tampaknya telah mencapai titik tertinggi sementara, dan pasar sedang mencari katalis untuk membalikkan tren tersebut," imbuhnya.
Baca Juga: Jane Street Rugi Besar, The Fed dan BoE Mulai Selidiki Risiko Bank
Imbal hasil obligasi tenor dua tahun sempat naik tipis setelah Departemen Keuangan AS melakukan penjualan surat utang (Treasury securities) tenor dua tahun senilai US$ 69 miliar.
Lou Brien, ahli strategi pasar di DRW Trading, menulis bahwa hasil penjualan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar. "Imbal hasil sebesar 4,787% sedikit lebih tinggi dibandingkan tingkat pasar saat batas waktu penawaran, namun rasio penawaran terhadap permintaan (bid-to-cover ratio) sebesar 2,63 banding 1 sedikit lebih tinggi dari rata-rata."
Rata-rata rasio bid-to-cover selama setahun terakhir adalah 2,61, menurut catatan dari ahli strategi Deutsche Bank.
Lelang obligasi tenor lima dan tujuh tahun juga dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mencatat permintaan yang lemah untuk penjualan obligasi Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor 10 tahun senilai US$ 19 miliar.
Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun turun 2,2 basis poin menjadi 4,941%. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun 1,5 basis poin menjadi 5,281%.
Bagian dari kurva imbal hasil Treasury AS yang banyak dicermati—yang mengukur selisih antara imbal hasil obligasi tenor dua tahun dan 10 tahun serta dianggap sebagai indikator ekspektasi ekonomi—berada di level 21,1 basis poin.
Baca Juga: Pidato di PBB, Trump Ancam Musnahkan Iran Jika Tak Capai Kesepakatan














