kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.012   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.108   66,24   1,10%
  • KOMPAS100 801   11,17   1,41%
  • LQ45 609   8,67   1,45%
  • ISSI 211   1,35   0,64%
  • IDX30 343   4,64   1,37%
  • IDXHIDIV20 429   6,16   1,46%
  • IDX80 91   1,30   1,44%
  • IDXV30 117   1,58   1,37%
  • IDXQ30 111   1,61   1,48%

Zuckerberg bungkam soal skandal data, saham Facebook masih dilanda aksi jual


Rabu, 21 Maret 2018 / 18:06 WIB
ILUSTRASI. Orang Terkaya di Dunia - Mark Elliot Zuckerberg


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Saham Facebook kembali melorot. Bahkan penurunannya mencapai 2% sebelum pembukaan market pada Rabu (21/3). Dengan demikian, aksi jual saham Facebook sudah terjadi selama tiga hari beruntun akibat skandal pembobolan data.

Mengutip Reuters, sejak Senin (19/3) lalu, nilai kapitalisasi market Facebook sudah tergerus hampir US$ 50 miliar.

Pada akhir pekan lalu, media AS ramai-ramai melaporkan bahwa perusahaan konsultan dan advertising Cambridge Analytica menerima data melalui pengembang aplikasi di jaringan sosialnya, dan ini melanggar kebijakan Facebook. Perusahaan tersebut memanen data dari 50 juta pengguna tanpa izin.

Parlemen AS dan Eropa ingin mendengar langsung dari Zuckerberg alasan perusahaan konsultan tersebut bisa mengambil data tanpa izin. Sementara tekanan ini berlanjut, investor saham khawatir, Facebook akan dijatuhi regulasi lebih berat.

Informasi saja, Cambridge Analytica merupakan perusahaan data politik yang bekerjasama dengan tim kampanye Presiden Donald Trump pada 2016.

Facebook sendiri membantah tuduhan adanya pembobolan data. Sejauh ini, Chief Executive Facebook Mark Zuckerberg masih tetap bungkam atas isu skandal tersebut.

Dalam penyamaran oleh Channel 4 News Inggris, para senior eksekutif di Cambridge Analytica mengklaim bahwa mereka menjalankan semua operasi digital untuk kampanye Trump 2016, dan secara terpisah menyarankan mereka dapat menggunakan teknik jebakan seperti suap dan pekerja seks untuk membantu politisi di negara lain mendiskreditkan lawan mereka.

Cambridge Analytica menuding reporter Channel 4 menggunakan tipuan sehingga menyebabkan para eksekutifnya membuat klaim tersebut. Disebutkan juga, Cambridge Analytica tidak pernah mengklaim pihaknya memenangkan pemilu untuk Trump. Terkait hal ini, Cambridge Analytica mensuspensi CEO Alexander Nix, yang kedapatan dalam aksi penyamaran Channel 4.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×