Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Gelombang demonstrasi dan aksi mogok kerja kembali mengguncang Prancis pada Kamis (5/11/2026).
Ribuan pekerja sektor publik, mahasiswa, dan kelompok masyarakat turun ke jalan untuk memprotes kebijakan pemerintah Presiden Emmanuel Macron terkait biaya hidup, layanan publik, dan pendidikan.
Melansir Reuters, aksi unjuk rasa berlangsung di sejumlah kota besar, termasuk Paris, Lyon, Marseille, dan Nantes.
Meski sebagian besar demonstrasi berjalan damai, bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian sempat terjadi di Paris dan Lyon.
Baca Juga: The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga Bertahap untuk Tekan Inflasi AS
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 270.000 orang telah mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah negara tersebut, di luar Paris. Jumlah itu dihitung sebelum aksi utama di ibu kota dimulai pada Kamis sore.
Sejumlah tokoh politik ternama turut menghadiri demonstrasi tersebut, termasuk kandidat presiden Jean-Luc Melenchon dan Raphael Glucksmann.
Aksi ini menjadi tantangan baru bagi pemerintahan Macron setelah gelombang protes terkait biaya hidup, layanan publik, dan pendidikan memicu ketidakstabilan sosial terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.
"Negara ini membutuhkan keadilan. Kami akan menyatukan kembali rakyat Prancis. Kami akan memulihkan layanan publik dan melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang telah terjadi selama 10 tahun terakhir," kata Glucksmann kepada wartawan saat mengikuti demonstrasi di Paris.
Di Paris, demonstrasi awalnya berlangsung dalam suasana meriah. Para peserta menyanyikan lagu kebangsaan La Marseillaise dan membawa sejumlah kendaraan hias menyerupai karnaval.
Baca Juga: Pilpres AS 2028 Mulai Memanas, Demokrat Hadapi Persaingan Internal
Namun, sekitar dua jam setelah aksi dimulai, sejumlah demonstran di barisan depan terlibat bentrokan dengan polisi. Aparat kemudian menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.
Aksi mogok kerja juga berdampak terhadap sejumlah aktivitas publik. Menara Eiffel ditutup selama satu hari akibat aksi pekerja, termasuk sebagian pekerja sektor energi dan tenaga pengajar. Meski demikian, layanan transportasi tidak mengalami gangguan besar.
Pekerja dan Mahasiswa Bersatu Desak Perubahan
Di Lyon, polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan membubarkan kelompok demonstran yang sebagian mengenakan pakaian hitam serta penutup wajah.
Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut aparat menghadapi ratusan demonstran garis keras. Meski situasi berhasil dikendalikan, ketegangan di kota tersebut masih berlangsung.
Baca Juga: Posisi Netanyahu Tertekan, Rivalnya Kantongi Dukungan Mayoritas di Parlemen Israel
Gelombang protes ini terjadi sekitar lima bulan menjelang pemilihan presiden Prancis. Kontestasi tersebut berpotensi mempertemukan kandidat sayap kanan jauh Marine Le Pen dengan tokoh sayap kiri Jean-Luc Melenchon dalam putaran kedua.
Macron yang telah menjalani masa jabatan kedua tidak dapat kembali mencalonkan diri.
Alice Martinovic, seorang mahasiswa berusia 18 tahun yang mengikuti demonstrasi di Paris, mengatakan masyarakat semakin mengkhawatirkan masa depan, terutama terkait upah dan kualitas layanan publik.
Ia berharap para kandidat dalam pemilihan mendatang mempertimbangkan tuntutan kelompok muda dan mahasiswa yang kini mendapat dukungan dari berbagai kalangan pekerja.
"Harapan saya, dalam pemilihan mendatang para kandidat benar-benar memikirkan gerakan ini dan memasukkan pandangan anak muda serta mahasiswa yang kini bergabung dengan banyak pekerja lainnya," ujarnya.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pensiun dari Timnas Portugal, Ini Rekor dan Perjalanan Kariernya
Kebakaran Sekolah Picu Kekhawatiran Keamanan
Di tengah demonstrasi, kebakaran terjadi di sebuah sekolah menengah atas dekat Kota Toulouse, wilayah barat daya Prancis, pada Kamis pagi.
Kementerian Dalam Negeri menyebut kebakaran dipicu oleh sejumlah orang yang melemparkan kembang api ke gedung sekolah.
Insiden tersebut memaksa para siswa dan staf meninggalkan bangunan hingga petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api.
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengecam kejadian tersebut melalui unggahan di platform X dan menyebut tindakan itu sebagai perilaku kriminal yang tidak dapat diterima.
Baca Juga: Bank of England (BoE) Kerek Suku Bunga Jadi 4%, Pertama Kali Sejak 2023
Sebelumnya, pelajar sekolah menengah dan demonstran lainnya juga sempat berhadapan dengan polisi antihuru-hara di Paris. Mereka memblokir jalan menggunakan tempat sampah pada Kamis pagi.
Situasi keamanan Prancis semakin menjadi perhatian setelah kerusuhan dan penjarahan pada 17 Oktober lalu menyebabkan sejumlah toko dan bangunan publik rusak. Peristiwa tersebut juga memicu kritik terhadap penanganan krisis oleh pemerintahan Macron.
Sejak kejadian itu, pemerintah Prancis memberlakukan jam malam, pembatasan pertemuan besar, serta pengalihan rute demonstrasi untuk menghindari jalan-jalan utama. Kebijakan tersebut menuai kritik dari serikat pekerja.
"Pemerintah berusaha menghalangi demonstrasi. Namun, demonstrasi kali ini justru lebih besar dari sebelumnya," kata Sophie Binet, pimpinan serikat pekerja CGT.
Ia memperkirakan sekitar 250.000 orang telah mengikuti demonstrasi di seluruh Prancis sebelum aksi utama di Paris dimulai.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Umumkan Pensiun dari Timnas Portugal pada Usia 41 Tahun
70.000 Polisi Dikerahkan Amankan Demonstrasi
Pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 70.000 personel kepolisian untuk menjaga keamanan di seluruh negeri. Jumlah tersebut sebanding dengan pengerahan aparat pada akhir pekan sebelumnya.
Pemerintah membela tindakan kepolisian dalam mengendalikan demonstrasi, tetapi menyatakan setiap dugaan penyalahgunaan kewenangan tetap akan diselidiki.
Di sisi lain, tuntutan pekerja juga berkaitan dengan tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup.
Mehdi Dumontroty, petugas pemadam kebakaran berusia 45 tahun yang mengikuti demonstrasi di Paris, mengatakan kenaikan upah belum mampu mengimbangi inflasi.
Baca Juga: Ancaman Bom Ganggu Penerbangan di Eropa, Sejumlah Pesawat Terpaksa Mendarat Darurat
Ia juga menilai pengalaman menghadapi kebakaran hutan pada musim panas lalu menunjukkan perlunya tambahan sumber daya untuk menangani krisis, terutama ketika gelombang panas memperburuk kebakaran.
Aksi mogok turut memengaruhi produksi energi Prancis. Produksi listrik tenaga nuklir dilaporkan mengalami penurunan pada Kamis pagi.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Prancis mencatat sedikit lebih dari 15% tenaga pengajar di negara tersebut ikut serta dalam aksi mogok kerja.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
