kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.093   -96,00   -0,53%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

Bank of England (BoE) Kerek Suku Bunga Jadi 4%, Pertama Kali Sejak 2023


Kamis, 05 November 2026 / 20:08 WIB
Bank of England (BoE) Kerek Suku Bunga Jadi 4%, Pertama Kali Sejak 2023
ILUSTRASI. Komite Kebijakan Moneter (MPC) bank sentral Inggris memutuskan dengan suara 8-1 untuk menaikkan suku bunga menjadi 4% dari 3,75% (REUTERS/Corey Rudy)


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - LONDON. Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 dan memperingatkan bahwa setidaknya satu kenaikan lagi kemungkinan besar akan terjadi jika konflik Amerika Serikat (AS)-Iran terus berlanjut.

Kamis (5/11/2026), Komite Kebijakan Moneter (MPC) BoE memutuskan dengan suara 8-1 untuk menaikkan suku bunga menjadi 4% dari 3,75%.

Keputusan tersebut berbeda dengan ekspektasi dalam jajak pendapat Reuters, di mana satu suara yang berbeda pendapat bukan berasal dari anggota komite yang menginginkan suku bunga tetap, melainkan dari anggota yang justru mengusulkan kenaikan suku bunga yang lebih besar. Catherine Mann, yang bulan lalu menyatakan bahwa Bank of England (BoE) lambat dalam meyakinkan pasar bahwa mereka mampu mengendalikan inflasi, memberikan suara untuk kenaikan suku bunga sebesar setengah poin menjadi 4,25%.

Langkah BoE ini menandai dimulainya kebijakan pengetatan yang sebelumnya telah ditempuh oleh bank sentral negara-negara maju lainnya.

Baca Juga: Demokrat Kuasai Kongres AS, Bank Wall Street Hadapi Pengawasan Ketat

BoE menyatakan bahwa inflasi di Inggris diperkirakan akan mencapai sekitar 5% pada pertengahan tahun depan—lebih dari dua kali lipat target bank sentral—yang menjadi pukulan bagi Perdana Menteri baru, Andy Burnham, yang berupaya meringankan tekanan biaya hidup.

Meskipun sejauh ini belum banyak bukti adanya percepatan inflasi di luar sektor-sektor yang terdampak langsung oleh kenaikan harga energi, BoE menilai bahwa tekanan inflasi yang akan muncul akibat tingginya harga energi selama beberapa bulan terakhir menuntut kenaikan suku bunga saat ini.

"Kenaikan hari ini tidak boleh dianggap sebagai awal dari rangkaian kenaikan panjang yang tak terelakkan. Namun, kecuali konflik di Timur Tengah terselesaikan, kenaikan ini kemungkinan besar juga bukan yang terakhir," ujar Gubernur BoE Andrew Bailey.

Mata uang poundsterling menguat terhadap dolar AS setelah keputusan tersebut, dan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor dua tahun — yang sensitif terhadap ekspektasi pergerakan suku bunga di masa depan — naik cukup signifikan sebesar 4 basis poin.

"Langkah (suku bunga) hari ini masih terasa sebagai tindakan yang terukur dan bertujuan menjaga kredibilitas, bukan sebagai awal dari siklus yang agresif. Inflasi memang tinggi, namun bukti bahwa inflasi telah meluas ke sektor di luar energi masih belum jelas," ujar Madison Faller, ahli strategi investasi global di J.P. Morgan Private Bank.

Hingga saat ini, BoE belum mengikuti langkah Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, dan bank sentral lainnya dalam menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu oleh perang di Ukraina.

Dalam risalah keputusan bulan November, Mann mengungkapkan kekhawatirannya mengenai "risiko inflasi non-linear". Inflasi harga konsumen telah meningkat menjadi 3,5% pada bulan September, yang menurutnya berpotensi memicu hilangnya kepercayaan terhadap bank sentral.

Baca Juga: Uni Eropa Suntik Dana Besar untuk Kejar Ketertinggalan Industri Cip

Pada bulan-bulan sebelumnya, Bailey berpendapat bahwa BoE tidak perlu terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Hal ini dikarenakan tingkat suku bunga BoE sudah lebih tinggi dibandingkan bank sentral lain saat konflik dimulai, dan para investor sebelumnya sempat memperkirakan bahwa BoE justru akan memangkas suku bunga tahun ini.

Menjelang keputusan hari ini, para investor dan pasar keuangan hampir yakin bahwa akan ada kenaikan suku bunga bulan ini. Namun, pasar keuangan juga mengantisipasi tiga kali kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin untuk tahun 2027—sebuah ekspektasi yang dianggap terlalu tinggi oleh sebagian besar ekonom.

Bailey menjelaskan bahwa perbedaan pandangan ini mencerminkan penilaian pasar keuangan terhadap risiko ekstrem (tail risks) berupa lonjakan harga energi lebih lanjut, sementara ekspektasi para ekonom didasarkan pada skenario yang paling mungkin terjadi, yaitu pengetatan kebijakan lebih lanjut dengan skala yang lebih kecil.

"Tanpa adanya kabar yang dapat meredam risiko tekanan inflasi, saya melihat adanya alasan kuat untuk kembali menaikkan suku bunga," ungkapnya dalam risalah kebijakan tersebut. Deputi Gubernur Clare Lombardelli menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan diperlukan dalam waktu dekat.

Anggota eksternal MPC Megan Greene, dan Kepala Ekonom Huw Pill — yang sebelumnya juga memilih kenaikan suku bunga pada bulan September — masing-masing menyebutkan perlunya "pengetatan lebih lanjut" dan "kenaikan tambahan".

Anggota MPC lainnya, Swati Dhingra dan Alan Taylor — yang sebelumnya enggan menaikkan suku bunga — menyatakan bahwa mereka memerlukan bukti yang lebih kuat mengenai dampak putaran kedua (second-round effects) sebelum mendukung pengetatan lebih lanjut.

BOE MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN LEBIH CEPAT, INFLASI LEBIH TINGGI

Dalam prakiraan utamanya untuk pertumbuhan dan inflasi, BoE merevisi naik ekspektasi pertumbuhan untuk tahun ini dan tahun depan, masing-masing menjadi 1,6% dan 1,3% — angka yang jauh lebih kuat dibandingkan prediksi Kantor Tanggung Jawab Anggaran (Office for Budget Responsibility) pemerintah pekan lalu.

Revisi naik ini menyusul data resmi yang kuat sepanjang tahun ini. Bank sentral Inggris ini mengaitkan sebagian dari kekuatan tersebut dengan belanja untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence) serta dorongan sementara yang kecil dari anggaran tahunan yang disampaikan Menteri Keuangan John Healey pekan lalu.

Namun, BoE kini memperkirakan inflasi akan mencapai puncaknya dengan rata-rata 4,8% pada kuartal kedua tahun depan. Dalam skenario yang lebih buruk, di mana harga minyak mencapai puncak sekitar US$ 130 per barel — dibandingkan dengan harga saat ini yang berada di kisaran US$ 100 per barel — inflasi diperkirakan mencapai 6,2% pada kuartal ketiga tahun 2027.

Baca Juga: Ancaman Bom Ganggu Penerbangan di Eropa, Sejumlah Pesawat Terpaksa Mendarat Darurat

Berdasarkan skenario utama, inflasi diperkirakan tidak akan kembali ke 2% hingga kuartal ketiga tahun 2028, enam bulan lebih lambat dari prediksi BoE pada bulan Juli, ketika perkiraan disiapkan selama jeda konflik AS-Iran yang telah menurunkan biaya energi.

Setelah inflasi dan pajak, pendapatan rumah tangga Inggris dari pekerjaan diperkirakan akan turun baik tahun ini maupun tahun depan, kata BoE.

Anggaran tahunan Healey akan menurunkan inflasi sebesar 0,25 poin persentase pada puncaknya tetapi akan menaikkannya kemudian ketika bantuan biaya hidup sementara berakhir, tambah BoE.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×