Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank sentral Inggris atau Bank of England (BoE) diperkirakan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada Kamis (5/11/2026).
Tekanan inflasi akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang berkepanjangan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan arah kebijakan moneter tersebut.
Jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom menunjukkan, Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) BoE diperkirakan akan memberikan suara 7-2 untuk menaikkan suku bunga acuan atau Bank Rate menjadi 4% dari posisi saat ini 3,75%.
Baca Juga: Singapura Perberat Sanksi Polusi Asap, Denda Harian Capai Rp14,2 Miliar
Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama sejak Agustus 2023. BoE terakhir kali mengubah suku bunga pada Desember tahun lalu melalui keputusan pemangkasan.
Kepala Ekonom St James's Place Hetal Mehta menilai, kenaikan harga energi dalam beberapa bulan terakhir dan ketahanan pertumbuhan ekonomi Inggris kemungkinan menjadi pertimbangan yang mendorong MPC menaikkan suku bunga.
Pada pertemuan sebelumnya pada September, MPC memutuskan mempertahankan suku bunga dengan dukungan enam anggota, sementara tiga anggota lainnya menginginkan perubahan kebijakan.
Gubernur BoE Andrew Bailey sebelumnya menyatakan bahwa dunia usaha tampak lebih mampu menyerap kenaikan biaya dibandingkan pada 2022. Kala itu, inflasi Inggris sempat mencapai 11% setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.
Namun, konflik AS-Iran yang berkepanjangan meningkatkan risiko tekanan harga energi merambat lebih luas ke perekonomian Inggris.
Baca Juga: Legenda Tenis Rafael Nadal Bersedia Gabung Dewan Direksi Real Madrid
Harga minyak bertahan di sekitar US$ 100 per barel, sementara harga gas alam telah meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelum konflik.
Tekanan inflasi juga terlihat dari data terbaru. Inflasi Inggris pada September naik lebih tinggi dari perkiraan ekonom menjadi 3,5%, jauh di atas target BoE sebesar 2%. Angka tersebut juga melampaui proyeksi bank sentral sebesar 3% yang disusun pada akhir Juli.
Di sisi lain, perekonomian Inggris menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan. Produk domestik bruto (PDB) pada Agustus mencatatkan kenaikan tahunan terbesar sejak 2022.
Pada paruh pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Inggris juga menjadi salah satu yang tercepat di antara negara-negara anggota G7.
Meski demikian, sejauh ini belum terlihat indikasi kuat bahwa kenaikan inflasi telah memicu efek lanjutan atau second-round effects, terutama melalui kenaikan upah.
Perusahaan-perusahaan memperkirakan kenaikan upah tahunan sekitar 3,5% pada tahun depan, relatif sama dengan proyeksi untuk 2026.
Baca Juga: Harga Bitcoin Melemah Selama Pemilu Sela AS, Demokrat Bisa Ganggu Regulasi Kripto
Menteri Keuangan Inggris John Healey juga telah menyampaikan anggaran tahunan pertamanya pada pekan lalu. Namun, kebijakan anggaran tersebut dinilai tidak banyak mengubah prospek pertumbuhan ekonomi maupun inflasi Inggris.
Perbedaan pandangan di internal MPC masih menjadi perhatian pasar. Sebagian pembuat kebijakan menilai BoE perlu menunggu indikasi awal efek lanjutan inflasi sebelum menaikkan suku bunga.
Sementara itu, kelompok lainnya khawatir penundaan justru membuat bank sentral terlambat mengendalikan tekanan harga.
Bailey sebelumnya mempertahankan keputusan menahan suku bunga dengan mempertimbangkan kenaikan tajam suku bunga pasar setelah konflik AS-Iran.
Perubahan ekspektasi investor yang sebelumnya memperkirakan pemangkasan suku bunga BoE turut mendorong kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di Inggris.
Namun, sejumlah anggota MPC, termasuk Catherine Mann, mengkhawatirkan kenaikan ekspektasi suku bunga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemampuan BoE mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Manchester City Terancam Dakwaan Baru, Pendapatan Sponsor Dipertanyakan
Saat ini, pasar keuangan memperkirakan setidaknya tiga kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun depan, di luar kenaikan yang diperkirakan terjadi bulan ini. Jika terealisasi, suku bunga Inggris berpotensi melampaui proyeksi suku bunga AS.
Meski demikian, sebagian besar ekonom memperkirakan pengetatan kebijakan moneter BoE akan lebih terbatas. Ekonom PIMCO Peder Beck-Friis memperkirakan BoE hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada Februari tahun depan, sebelum mempertahankannya dalam periode yang lebih panjang.
Menurut dia, perekonomian Inggris terlihat lebih lemah dibandingkan AS. Tanpa munculnya efek lanjutan yang kuat terhadap inflasi inti, pengetatan kebijakan moneter tersebut lebih merupakan langkah untuk mengelola risiko inflasi.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
