Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
3. Low Tuck Kwong
Low Tuck Kwong (77 tahun) berada di peringkat ketiga dengan kekayaan US$ 24,5 miliar. Ia merupakan orang terkaya kedua di Indonesia, meski kekayaannya turun 18% tahun lalu dan kini berada di posisi ke-93 dunia.
Penurunan tersebut dipicu anjloknya saham Bayan Resources sebesar 22% seiring melemahnya harga batu bara dan sentimen pasar terhadap sektor tersebut. Low memulai karier di bisnis konstruksi milik ayahnya di Singapura sebelum pindah ke Indonesia pada 1972.
Ia mendirikan kontraktor Jaya Sumpiles Indonesia pada 1973 dan masuk ke bisnis batu bara pada 1990-an dengan membeli konsesi tambang di Kalimantan. Bayan Resources resmi berdiri pada 2004 dan berkembang menjadi eksportir besar, dengan produksi sekitar 56,9 juta ton batu bara pada 2024 dan pendapatan sekitar US$3,3 miliar.
4 & 5. Robert Budi Hartono dan Michael Hartono
Robert Budi Hartono (85 tahun) berada di posisi keempat dengan kekayaan US$ 21,7 miliar, turun 4% tahun lalu akibat penurunan saham Bank Central Asia (BCA) sebesar 18%. Adiknya, Michael Hartono, menempati peringkat kelima dengan kekayaan US$20,8 miliar.
Keduanya mengendalikan kerajaan bisnis yang sangat terdiversifikasi, mencakup rokok, perbankan, elektronik, bisnis digital, hingga properti premium. Mereka mewarisi perusahaan rokok Djarum dalam kondisi sulit setelah pabriknya dilanda kebakaran besar.
Tonton: Mentan Sebut RI Bakal Ekspor Beras di 2026: Pertama dalam Sejarah
Melalui modernisasi dan pengembangan merek, Djarum tumbuh menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di dunia. Pada dekade berikutnya, keluarga Hartono merambah elektronik dan akhirnya mengambil alih BCA, yang kini menjadi penyumbang utama kekayaan mereka.
Kesimpulan
Daftar ini menunjukkan betapa dominannya Indonesia dalam peta kekayaan Asia Tenggara, dengan empat dari lima orang terkaya berasal dari sektor berbasis sumber daya alam, energi, dan perbankan, sementara Vietnam mulai menantang lewat industrialisasi dan kendaraan listrik. Namun di balik lonjakan kekayaan tersebut, terlihat kontras yang tajam: sebagian besar pertumbuhan masih bergantung pada siklus komoditas dan kebijakan negara, membuat kekayaan para taipan ini sangat sensitif terhadap perubahan harga global, transisi energi, dan arah politik ekonomi di kawasan.













