kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45862,44   -0,26   -0.03%
  • EMAS918.000 -1,50%
  • RD.SAHAM -0.33%
  • RD.CAMPURAN -0.01%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Akibat kasus peretasan, AS menuntut mantan kepala keamanan Uber


Jumat, 21 Agustus 2020 / 05:58 WIB
Akibat kasus peretasan, AS menuntut mantan kepala keamanan Uber
ILUSTRASI. Seorang mantan kepala petugas keamanan Uber Technologies didakwa pidana pada Kamis (22/8) karena berusaha menutupi aksi peretasan pada tahun 2016.

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Seorang mantan kepala petugas keamanan Uber Technologies didakwa pidana pada Kamis (22/8) karena berusaha menutupi aksi peretasan pada tahun 2016. Peretasan tersebut telah membocorkan data pribadi sekitar 57 juta pelanggan dan pengemudi perusahaan tumpangan online tersebut.

Dilansir dari Reuters, Jumat (21/8), Departemen Kehakiman AS mendakwa Joseph Sullivan dengan tuduhan menghalangi penyelidikan. Dia mengambil langkah yang disengaja untuk mencegah Komisi Perdagangan Federal (FTC) menyelidiki pelanggaran tersebut. Tuduhan juga termasuk berkomunikasi dengan para peretas di balik layar dan berbohong sehingga para eksekutif Uber tidak mengetahui peretasan ini. 

Uber akhirnya menemukan peretasan tersebut dan mengungkapkannya pada November 2017. Menurut dokumen pengadilan Sullivan dipecat setelah 2,5 tahun menjabat sebagai kepala petugas keamanan, di bulan yang sama.

Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini setuju pada bulan September berikutnya untuk membayar US$ 148 juta untuk menyelesaikan klaim di 50 negara bagian AS dan Washington DC karena perusahaan ini dinilai lambat mengungkapkan aksi peretasan tersebut.

Sullivan, dari Palo Alto, California, dituduh menyalurkan pembayaran kepada para peretas melalui program bug bounty Uber. Pihak ketiga mengatur pembayaran kepada white hat hackers yang menunjukkan adanya masalah keamanan tetapi tidak membahayakan data itu sendiri.

Baca Juga: Buntut pembajakan akun pesohor dunia, FBI turun tangan selidiki peretasan Twitter

Jaksa penuntut mengungkapkan bahwa Uber akhirnya membayar para peretas, yang awalnya meminta pembayaran enam digit US$ 100.000 dalam bentuk bitcoin pada Desember 2016.

Ini adalah pembayaran bug bounty terbesarnya, meskipun mereka menolak untuk mengidentifikasi mereka siapa saja. 

Mereka juga mengatakan Sullivan meminta peretas menandatangani perjanjian kerahasiaan yang secara salah menyatakan bahwa mereka tidak mencuri data.

"Silicon Valley bukanlah Wild West. Kami tidak akan menolerir perusahaan yang menutup-nutupi kasus. Kami tidak akan mentolerir pembayaran uang tutup mulut ilegal," kata Pengacara AS David Anderson di San Francisco. 

Baca Juga: Uber Freight Bakal Mendapatkan Pendanaan Sekitar US$ 500 juta




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Virtual Selling: How to win sales remotely Optimasi alur Pembelian hingga pembayaran

[X]
×