Sumber: Fortune,Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pasar minyak global berpotensi mengalami guncangan besar seiring meningkatnya kemungkinan Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Iran.
Mengutip Fortune.com, seorang analis energi terkemuka memperkirakan peluang serangan tersebut mencapai 75% dalam waktu dekat.
Bob McNally, pendiri Rapidan Energy Group sekaligus mantan penasihat energi Gedung Putih, mengatakan ketegangan yang meningkat membuat risiko gangguan pasokan energi kini benar-benar diperhitungkan pasar.
“Kami menilai peluang serangan AS ke Iran dalam beberapa hari hingga minggu ke depan mencapai 75%,” kata McNally kepada CNBC.
Harga minyak Brent tercatat naik 5% dalam sepekan terakhir dan melonjak 14% sejak awal tahun. Kenaikan ini menandai perubahan tren, setelah sebelumnya harga cenderung turun dengan lonjakan singkat.
McNally menilai situasi kali ini berbeda dibanding sebelumnya. Serangan AS ke fasilitas nuklir Iran tahun lalu hanya memicu kenaikan harga sementara karena tidak menyasar infrastruktur minyak. Hal serupa juga terjadi saat operasi militer AS terhadap Venezuela tidak berdampak besar pada produksi minyak.
“Namun kali ini berbeda. Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan energi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Minyak Brent & WTI Ambles 3% di Pagi Ini (2/2), Ini Sentimen yang Menyeretnya
Iran memproduksi sekitar 4,7 juta barel minyak per hari, setara dengan 4,4% pasokan global. Sebagian besar ekspor minyak Iran dikirim ke China melalui jalur tidak resmi akibat sanksi.
Risiko terbesar, menurut McNally, adalah kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Pasar selama ini berasumsi Angkatan Laut AS dapat dengan cepat mengamankan Selat Hormuz. Namun, McNally memperingatkan bahwa asumsi tersebut bisa keliru.
“Iran memiliki persenjataan dan posisi geografis yang lebih menguntungkan untuk mengganggu jalur tersebut,” katanya.
Pemimpin tertinggi Iran sebelumnya memperingatkan bahwa setiap serangan AS dapat memicu “perang regional” di Timur Tengah. Di sisi lain, sumber menyebutkan bahwa pemerintah AS masih membuka jalur komunikasi tidak resmi untuk negosiasi dengan Teheran.
McNally juga menyoroti potensi guncangan besar di pasar LNG jika Selat Hormuz benar-benar terganggu.
Tonton: AS Pasok Senjata Besar-besaran ke Israel dan Arab Saudi, Konflik Timur Tengah Makin Panas!
“Jika gangguan berlangsung lebih dari satu atau dua hari, pasar akan benar-benar terkejut. Bisa terjadi perebutan besar-besaran untuk mendapatkan kargo LNG di pasar spot,” ujarnya.













