Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - OSAKA. Langkah Suntory Holdings Ltd. mengakuisisi unit farmasi bebas milik Daiichi Sankyo Co. menegaskan perubahan arah industri minuman Jepang. Di tengah penurunan konsumsi alkohol, terutama di kalangan generasi muda, pelaku usaha mulai agresif mencari sumber pertumbuhan baru di sektor kesehatan.
Media Jepang Nikkei melaporkan Suntory tengah bersiap membeli Daiichi Sankyo Healthcare dengan nilai sekitar ¥ 200 miliar atau setara US$ 1,3 miliar. Meski demikian, seperti yang dilansir Bloomberg (14/4), pihak Suntory menyatakan belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan, sementara Daiichi Sankyo masih bungkam.
Jika terealisasi, akuisisi ini bukan sekadar ekspansi biasa, melainkan bagian dari strategi bertahan di tengah perubahan perilaku konsumen. Konsumsi alkohol di Jepang terus menyusut, memaksa perusahaan minuman mencari ceruk baru yang lebih menjanjikan dan berkelanjutan.
Fenomena ini bukan hanya dilakukan Suntory. Kirin Holdings Co. lebih dulu mempercepat transformasi dengan mengakuisisi Blackmores Ltd. serta memperkuat portofolio kesehatan lewat merek kosmetik Fancl. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa batas antara industri minuman dan kesehatan semakin kabur.
Baca Juga: Kirin Jual Four Roses, Fokus ke Bisnis Kesehatan
Di sisi lain, langkah divestasi yang ditempuh Daiichi Sankyo mencerminkan strategi fokus bisnis. Perusahaan farmasi tersebut kini mengalihkan energi ke pengembangan obat kanker segmen dengan margin tinggi namun membutuhkan investasi besar.
Analis Senior Sanford C. Bernstein Jepang, Miki Sogi, menilai pelepasan bisnis non-inti sebagai langkah rasional. “Ini keputusan positif karena memungkinkan perusahaan memusatkan sumber daya pada lini utama,” ujarnya.
Namun demikian, tren diversifikasi ini juga menyimpan pertanyaan. Masuknya perusahaan minuman ke sektor kesehatan berpotensi meningkatkan persaingan, tetapi juga menimbulkan risiko eksekusi mengingat perbedaan karakter bisnis yang cukup tajam.
Pada akhirnya, manuver Suntory dan para pesaingnya mencerminkan realitas baru: industri alkohol Jepang tidak lagi bisa bergantung pada pasar tradisional. Ketika konsumsi melemah, transformasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Baca Juga: Jepang Pertimbangkan Kebijakan Moneter untuk Perkuat Yen di Tengah Lonjakan Inflasi













