kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.751   12,00   0,07%
  • IDX 6.181   19,45   0,32%
  • KOMPAS100 817   4,66   0,57%
  • LQ45 628   7,19   1,16%
  • ISSI 217   -1,01   -0,47%
  • IDX30 359   4,51   1,27%
  • IDXHIDIV20 443   6,34   1,45%
  • IDX80 94   0,61   0,65%
  • IDXV30 122   0,60   0,50%
  • IDXQ30 116   1,62   1,41%

April, laju ekspor dan impor China melambat


Kamis, 10 Mei 2012 / 12:40 WIB
ILUSTRASI. Kantor FDA Amerika Serikat


Reporter: Dupla Kartini, Bloomberg | Editor: Dupla Kartini

BEIJING. Laju ekspor dan impor China di bulan April lebih lambat dari yang diperkirakan. Data tersebut dinilai akan menambah tekanan pada pemerintah untuk menerapkan kebijakan pelonggaran ekonomi guna memacu ekspansi.

Dalam situs resmi Biro Kepabeanan China hari ini, disebutkan ekspor per April naik 4,9% dibanding tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut meleset dari perkiraan ekonom yang menduga naik hingga 8,5%. Sementara, impor tumbuh 0,3%, jauh di bawah ekspektasi analis yang mencapai 10,9%.

Adapun, surplus perdagangan sebesar US$ 18,4 miliar, hampir dua kali lipat dari perkiraan yang senilai US$ 9,9 miliar.

Laju ekspor dan impor di bulan April ini pun melmabat jika dibandingkan pencapaian pada Maret lalu. Impor China per Maret naik sebesar 5,3%, dan ekspor naik 8,9%. Sementara, surplus perdagangan sebesar US$ 5,35 miliar.

Ekspor di bulan lalu tertekan lantaran kebijakan penghematan di Eropa, dan berakhirnya periode penguatan yuan terhadap dollar AS pada tahun ini. Pemerintah China menilai mata uang sudah mendekati keseimbangan.

Para pemimpin China telah berjanji untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada hasil ekspor, dan mengurangi kontrol atas arus modal.

"Pelemahan ekonomi di Eropa akan terus membebani pertumbuhan ekspor China dalam beberapa bulan mendatang. Sementara, impor akan ditopang pertumbuhan pendapatan domestik dan termasuk tarif rendah untuk pengiriman," kata Zhang Zhiwei, kepala ekonom untuk Cina dari Nomura Holdings Inc.

Lanjut Zhang, China mungkin harus melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter, karena prospek ekspor masih lemah. Apalagi, seiring adanya kebijakan pemangkasan cadangan bank atau giro wajib minimum pada bulan ini.


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×