kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45827,18   4,14   0.50%
  • EMAS948.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.61%
  • RD.CAMPURAN -0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Arab Saudi tetap percaya diri meski dukungan militer dari AS mulai pergi


Selasa, 22 Juni 2021 / 12:21 WIB
Arab Saudi tetap percaya diri meski dukungan militer dari AS mulai pergi
ILUSTRASI. Tentara AS berdiri di samping sistem rudal Patriot AS di pangkalan militer Turki di Gaziantep, Turki tenggara, 10 Oktober 2014.

Sumber: Arab News | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - ABHA. Berkurangnya dukungan militer dari AS nampaknya tidak membuat Arab Saudi gentar. Arab dan koalisinya, percaya diri tetap bisa menghalau gangguan udara dari pemberontak Yaman.

Pemerintah Amerika Serikat di Washington pada hari Jumat (18/6) mengumumkan bahwa mereka akan memotong jumlah pasukan dan unit pertahanan udara yang dikerahkan ke Timur Tengah, termasuk di antaranya adalah sistem rudal Patriot dan sistem pertahanan anti rudal THAAD.

Beberapa sistem pertahanan udara utama tersebut akan segera ditarik dari Arab Saudi yang merupakan sekutu dekat AS di Timur Tengah.

Meskipun demikian, Saudi mengaku kehilangan dukungan itu tidak akan menurunkan kemampuan pertahanan udara mereka. Koalisinya dengan negara-negara sekitar dianggap sudah cukup kuat.

"Ini tidak akan mempengaruhi pertahanan udara Saudi. Kami memiliki pemahaman yang kuat dengan sekutu kami. Kami tentu memiliki kemampuan untuk membela negara kami," ungkap juru bicara koalisi Turki Al-Maliki, seperti dikutip Arab News.

Baca Juga: Roket kembali menghantam pangkalan militer AS di Irak

Bukan tanpa alasan, pada hari Sabtu (19/6), pertahanan udara Saudi berhasil mencegat total 17 drone Houthi, jumlah terbanyak yang pernah datang dalam satu hari.

Dukungan militer juga bisa saja datang dari Yunani, yang pada bulan April lalu menawarkan pinjaman rudal Patriot ke Arab Saudi untuk melindungi infrastruktur energinya yang sangat vital.

Penarikan sejumlah alat pertahanan dari Arab Saudi merupakan salah satu upaya Presiden AS, Joe Biden, untuk meredakan ketegangan dengan Iran.

Ketegangan antara AS dan Iran mulai memuncak kembali setelah pendahulunya, Donald Trump, melancarkan kampanye "tekanan maksimum" kepada Iran.

Eskalasi konflik terus meningkat setelah PBB, AS, dan negara-negara regional gagal mengamankan gencatan senjata di Yaman setelah lebih dari enam tahun konflik.

Selanjutnya: Taliban: Kami menginginkan sistem Islam yang asli di Afghanistan




TERBARU

[X]
×