Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI/WASHINGTON. Iran dan Amerika Serikat (AS) masih bersitegang dalam upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk. Hingga kini, belum ada kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni 2026.
Seorang sumber senior Iran mengatakan, pembicaraan melalui mediator masih menghadapi kebuntuan, termasuk mengenai kerangka waktu pelaksanaan komitmen yang sebelumnya telah disepakati kedua pihak.
Komentar tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap para pemimpin Iran. Situasi ini semakin memperkecil harapan tercapainya penyelesaian krisis, terutama setelah terjadi serangkaian serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut pada Selasa (11/8/2026).
Kesepakatan yang dicapai pada Juni lalu menyatakan adanya "penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front". Namun, kesepakatan tersebut dengan cepat runtuh. Trump menyatakan kesepakatan itu "sudah berakhir" pada 7 Juli, sementara Kementerian Luar Negeri Iran menyebutnya "ditangguhkan" sekitar sepekan kemudian.
Baca Juga: Putin Kunjungi Pulau Sengketa, Jepang Murka di Tengah Manuver Militer Rusia
AS menuduh Iran gagal memenuhi kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz. Sebaliknya, Teheran menuding Washington mengingkari komitmennya, termasuk terkait pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Tidak Ada Kemajuan dalam Kesepakatan Sementara
Sumber senior Iran mengatakan salah satu isu yang tengah dibahas melalui mediator adalah kemungkinan AS kembali pada kesepakatan sementara serta menetapkan batas waktu untuk melaksanakan komitmen yang telah disepakati.
"Salah satu isu yang sedang dibahas melalui mediator adalah AS kembali pada kesepakatan sementara dan menentukan jangka waktu untuk melaksanakan komitmen tersebut. Sama sekali tidak ada kemajuan dalam masalah ini," kata sumber Iran tersebut kepada Reuters.
Ketegangan juga meningkat setelah Trump pada Rabu (12/8/2026) menyatakan bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.
Namun, Otoritas Selat Teluk Persia, badan yang dibentuk Iran untuk mengelola jalur perairan tersebut, menyatakan Selat Hormuz masih diblokade. Iran menegaskan jalur tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum persyaratan yang diajukannya diterima.
Baca Juga: Jeff Bezos Incar Liverpool, Ini 4 Alasan Investasi di The Reds Bisa Menguntungkan
Trump kembali menyerang Iran melalui platform Truth Social.
"Iran hanya banyak bicara dan tidak bertindak, Pengganggu Timur Tengah itu tidak lagi berkuasa," tulis Trump.
Sepanjang konflik, Trump diketahui beberapa kali mengubah sikap antara mengancam eskalasi lebih lanjut dan menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah semakin dekat.
Iran Bantah Ada Perpanjangan Kesepakatan 60 Hari
Konflik yang berlangsung sejak Februari 2026 telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran kemudian menyerang aset serta infrastruktur AS di sejumlah negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni menetapkan periode selama 60 hari yang dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan kedua pihak. Dalam periode tersebut, Iran dan AS diharapkan mencapai kesepakatan final yang membatasi program nuklir Teheran sekaligus mencabut sanksi AS terhadap Iran.
Namun, sumber Iran membantah laporan Anadolu Agency pada Rabu yang mengutip sumber pemerintah Pakistan mengenai kesepakatan untuk memperpanjang periode 60 hari tersebut.
"Tidak ada pembicaraan mengenai perpanjangan karena dari perspektif Iran, tidak ada periode yang dimulai dan karena itu tidak ada yang perlu diperpanjang. Amerika Serikat melanggar kesepakatan sementara 48 jam setelah kesepakatan tersebut tercapai dan menarik diri beberapa hari kemudian," ujar sumber tersebut kepada Reuters.
Serangan terhadap Kapal Picu Kekhawatiran Pasokan Energi
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian besar bagi pasar energi global. Selat yang terletak di antara Iran dan Oman tersebut merupakan pintu masuk menuju kawasan Teluk dan sebelum perang berlangsung mengangkut sekitar seperlima arus minyak serta gas alam cair (LNG) dunia.
Baca Juga: Rusia Serang Pelabuhan Izmail Ukraina, Jalur Ekspor Gandum Terancam Terganggu
Harga minyak mentah Brent melonjak sejak perang dimulai pada Februari. Harga sempat mencapai US$126 per barel, atau sekitar 75% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.
Pergerakan harga minyak yang bergejolak mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk serta ketidakpastian arah pembicaraan damai antara Iran dan AS.
Pada Selasa (11/8/2026), terjadi sejumlah insiden yang melibatkan kapal di kawasan tersebut. Dalam salah satu insiden, sebuah helikopter MH-60 milik Angkatan Laut AS dilaporkan menembakkan dua rudal Hellfire, menurut militer AS.
Harga minyak kembali naik pada Rabu, sebelum bergerak lebih stabil dalam perdagangan yang volatil setelah sejumlah lembaga prakiraan memangkas proyeksi permintaan minyak dunia untuk 2026.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar US$88 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$83 per barel.
Kebuntuan diplomatik antara Iran dan AS dengan demikian masih menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pasar energi global. Selama status Selat Hormuz belum mendapatkan kepastian, risiko gangguan terhadap jalur perdagangan dan pasokan energi dari kawasan Teluk tetap menjadi perhatian pasar.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
