kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.168.000   165.000   5,49%
  • USD/IDR 16.793   59,00   0,35%
  • IDX 7.974   -346,60   -4,17%
  • KOMPAS100 1.104   -44,55   -3,88%
  • LQ45 787   -25,82   -3,18%
  • ISSI 287   -18,43   -6,04%
  • IDX30 408   -9,40   -2,25%
  • IDXHIDIV20 485   -8,00   -1,62%
  • IDX80 122   -4,92   -3,87%
  • IDXV30 133   -5,28   -3,82%
  • IDXQ30 132   -2,63   -1,96%

AS Kerahkan Armada Militer, Iran Pasang Kuda-Kuda Perang


Kamis, 29 Januari 2026 / 11:55 WIB
AS Kerahkan Armada Militer, Iran Pasang Kuda-Kuda Perang
ILUSTRASI. Presiden Trump mengancam aksi militer, namun Iran menegaskan siap membalas "segera dan kuat". Konflik besar bisa terjadi. (REUTERS/Stringer)


Sumber: Al Jazeera | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam aksi militer terhadap Teheran.

Merespons pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap memberikan balasan “segera dan kuat” terhadap setiap bentuk agresi.

Dalam pernyataan di media sosial pada Rabu malam, Araghchi menyatakan bahwa militer Iran berada dalam kesiapan penuh.

“Angkatan bersenjata kami yang berani siap—dengan jari di pelatuk—untuk segera dan kuat merespons SETIAP agresi terhadap darat, udara, dan laut kami,” tulis Araghchi.

Pelajaran dari “Perang 12 Hari”

Araghchi juga menyinggung pengalaman Iran dalam konflik militer selama beberapa hari dengan Israel pada Juni tahun lalu, yang turut disertai serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada masa pemerintahan Trump.

Menurutnya, pelajaran berharga dari konflik tersebut membuat Iran kini lebih siap merespons ancaman dengan lebih cepat, kuat, dan mendalam.

Baca Juga: Trump Ancam Iran: Deal Nuklir atau Serangan Berikutnya Lebih Parah

“Pelajaran berharga dari Perang 12 Hari telah memungkinkan kami untuk merespons dengan lebih kuat, lebih cepat, dan lebih mendalam,” ujarnya.

Trump Kirim Armada, Desak Iran Berunding

Pernyataan Araghchi muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan pengerahan armada militer besar ke kawasan dekat Iran. Dalam unggahan panjang di platform Truth Social, Trump menyebut “armada besar” sedang menuju Iran dan siap menjalankan misi dengan cepat dan keras bila diperlukan.

Trump juga kembali mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait program nuklirnya.

“Semoga Iran segera ‘datang ke meja perundingan’ dan menyepakati kesepakatan yang adil—TANPA SENJATA NUKLIR,” tulis Trump.

Ia bahkan memperingatkan bahwa jika Iran menolak kesepakatan, serangan berikutnya akan “jauh lebih buruk” dibandingkan sebelumnya.

Demonstrasi Kekuatan Militer AS

Ketegangan meningkat setelah pemerintahan Trump memindahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran akan potensi konfrontasi militer langsung.

Profesor hubungan internasional Universitas Qatar, Adnan Hayajneh, menilai pengerahan kapal induk ini sebagai “demonstrasi kekuatan” Washington untuk menekan Teheran.

Baca Juga: Iran Eksekusi Mati Seorang Warganya yang Jadi Mata-Mata Israel

Menurut Hayajneh, ancaman militer merupakan cara AS memaksa Iran kembali bernegosiasi, terutama saat Iran dinilai berada dalam posisi lemah secara domestik, regional, dan internasional.

Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa mengecam ancaman terbaru AS yang dinilainya hanya akan memperburuk stabilitas kawasan.

Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan memulai kembali perundingan nuklir selama masih berada di bawah ancaman militer.

“Negosiasi tidak bisa berjalan berdampingan dengan ancaman,” tegas Araghchi kepada media pemerintah Iran.

Meski demikian, ia menekankan Iran tetap terbuka pada kesepakatan nuklir yang adil dan saling menguntungkan, selama tidak disertai tekanan dan ancaman.

Upaya Diplomatik di Balik Layar

Laporan dari Teheran menyebutkan bahwa di balik retorika keras kedua pihak, upaya diplomatik intensif tengah berlangsung melalui mediator internasional.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan bahwa Iran pada dasarnya siap kembali membahas isu nuklir.

Sementara itu, diplomat Mesir dilaporkan telah melakukan komunikasi terpisah dengan pejabat Iran dan AS guna meredakan ketegangan.

Ketegangan Regional Meningkat

Ancaman konflik ini turut meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Iran dan Angkatan Udara AS menggelar latihan militer di sekitar Selat Hormuz.

Garda Revolusi Iran bahkan memperingatkan bahwa negara tetangga akan dianggap “musuh” jika wilayahnya digunakan AS untuk menyerang Iran.

Baca Juga: Arab Saudi Tegaskan Tak Izinkan Wilayahnya Dipakai untuk Serangan ke Iran

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk serangan terhadap Iran.

Sebelumnya, Iran pernah membalas serangan terhadap fasilitas nuklirnya dengan menyerang pasukan AS di pangkalan Al Udeid di Qatar pada Juni lalu.

Diplomasi atau Konfrontasi?

Menurut Hayajneh, seruan de-eskalasi dari negara-negara kawasan kemungkinan kecil memengaruhi keputusan Washington.

“Pada akhirnya, Trump lebih mendengarkan dirinya sendiri,” ujarnya.

Dengan meningkatnya retorika militer, pengerahan armada AS, serta kesiapan militer Iran, situasi kini berada di titik rawan. Meski jalur diplomasi masih terbuka, risiko salah perhitungan yang dapat memicu konflik berskala besar di kawasan tetap membayangi.

Selanjutnya: Curah Hujan Tinggi, WFH & PJJ Jakarta Diperpanjang! Sampai Kapan?

Menarik Dibaca: Chatime Terbaru: Banjir Promo Gajian, Ini Daftar Diskon yang Wajib Anda Tahu!




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×