Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Baht Thailand menjadi mata uang Asia yang mengalami pelemahan paling dalam terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9/2026), di tengah pergerakan mayoritas mata uang regional yang relatif terbatas.
Mengutip data Reuters pada pukul 02.01 GMT atau 09.01 WIB, baht melemah 0,15% ke level 33,63 per dolar AS dari posisi sebelumnya 33,58.
Pelemahan ini menjadi yang terdalam di antara mata uang Asia yang tercatat dalam perdagangan tersebut.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Selasa (29/9), Yield US Treasury Tembus Level Tertinggi 19 Tahun
Rupiah juga bergerak melemah tipis. Rupiah berada di level Rp17.960 per dolar AS, turun 0,03% dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.965 per dolar AS.
Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan. Dolar Singapura turun 0,08%, dolar Taiwan melemah 0,04%, sedangkan ringgit Malaysia terkoreksi 0,05%. Yen Jepang turun 0,07% ke 157,46 per dolar AS.
Di sisi lain, peso Filipina menguat 0,14%, won Korea Selatan naik 0,06%, dan yuan China menguat 0,06%. Rupee India relatif stabil.
Secara kumulatif sepanjang 2026, tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia masih cukup besar.
Rupiah tercatat menjadi salah satu yang mengalami pelemahan signifikan, yakni 6,11% dibandingkan posisi akhir 2025.
Baht Thailand melemah 4,13% sepanjang tahun ini, sedangkan peso Filipina turun 4,79% dan rupee India terkoreksi 5,81%.
Baca Juga: Kisah Rui Pinto, Hacker di Balik Terbongkarnya Kasus Manchester City
Sementara itu, won Korea Selatan justru menguat 4,39% terhadap dolar AS sejak akhir 2025. Yuan China juga menguat 3,97%, sedangkan dolar Singapura naik 1,16%.
Pergerakan mata uang Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil US Treasury, serta penguatan dolar AS.
Perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal dan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang di kawasan Asia.














