kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Bank Dunia: Bersiap untuk krisis selanjutnya!


Kamis, 12 Juni 2014 / 06:54 WIB
ILUSTRASI. 5 Makanan yang Membuat Otot Sulit Terbentuk.


Sumber: CNBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

WASHINGTON. Dalam laporan resminya, Bank Dunia mengingatkan agar negara-negara global terus melakukan reformasi ekonomi untuk mendongkrak pertumbuhan. Pasalnya, banyak faktor yang saat ini menghambat proses pemulihan ekonomi global. Sebut saja cuaca buruk di AS, krisis Ukraina, perlambatan ekonomi China, dan antisipasi pasar atas rencana bank sentral untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Bank Dunia yang juga berbasis di Washington sudah menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,8% dari prediksi Januari di level 3,2%.

"Kita benar-benar belum keluar dari krisis," jelas Kushik Basu, vice president and chief economist World Bank.

Dia menambahkan, ada pengetatan kebijakan fiscal secara bertahap serta dilakukannya reformasi struktural merupakan langkah-langkah menghadapi krisis seperti tahun 2008 lalu. "Singkatnya, ini merupakan saat untuk mempersiapkan krisis selanjutnya," urai Basu.

Menurutnya, negara-negara berkembang yang harus mendapatkan perhatian khusus di antaranya Ghana, India, Kenya, Malaysia, dan Afrika Selatan. Bank Dunia menyarankan agar negara-negara tersebut memperketat kebijakan fiskal dan melakukan reformasi struktural.

Saat ini, pertumbuhan bagi negara-negara berkembang diprediksi hanya sebesar 4,8%. Angka tersebut lebih rendah dari estimasi Januari yang mencapai 5,3%.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×