kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.537.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.130   -44,00   -0,24%
  • IDX 4.852   -52,22   -1,06%
  • KOMPAS100 622   -7,53   -1,20%
  • LQ45 495   -2,37   -0,48%
  • ISSI 161   -2,65   -1,62%
  • IDX30 279   -0,85   -0,30%
  • IDXHIDIV20 378   0,23   0,06%
  • IDX80 72   -0,80   -1,10%
  • IDXV30 105   -0,71   -0,67%
  • IDXQ30 94   0,11   0,12%

Bank Sentral Kerek Suku Bunga Tertinggi dalam 18 Tahun, Bursa Australia Berguguran


Rabu, 04 November 2026 / 08:28 WIB
Bank Sentral Kerek Suku Bunga Tertinggi dalam 18 Tahun, Bursa Australia Berguguran
ILUSTRASI. Kenaikan suku bunga RBA menekan saham perbankan dan sektor konsumsi, menyeret indeks ASX 200 melemah 0,5% pada Rabu (4/11). (Steven Saphore/AAP Image via Reuters)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - SIDNEY.  Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Rabu (4/11/2026), setelah bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 18 tahun.

Saham sektor perbankan memimpin pelemahan di tengah kekhawatiran dampak kenaikan biaya pinjaman terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi.

Mengutip Reuters, indeks S&P/ASX 200 turun 0,5% ke level 8.844,20 pada pukul 23.27 GMT. Pelemahan ini berbalik dari perdagangan sebelumnya ketika indeks ditutup menguat 0,3%.

Baca Juga: Bursa Asia Melemah Jelang Pemilu AS Selasa (3/11), Saham Korea Selatan Anjlok 3,8%

Saham sektor keuangan terkoreksi 0,7% dan menjadi salah satu pemberat utama indeks. Saham bank-bank besar Australia atau Big Four melemah antara 0,4% hingga 1,2%, dengan ANZ mencatat penurunan terdalam.

Tekanan juga menjalar ke sektor yang berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat. Saham sektor konsumsi nonprimer, konsumsi primer, dan properti masing-masing turun lebih dari 0,5%, menghapus sebagian penguatan pada perdagangan sebelumnya.

Kondisi ini terjadi setelah RBA pada Selasa (3/11/2026) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Kenaikan tersebut membawa suku bunga ke level tertinggi dalam hampir dua dekade, sehingga meningkatkan beban pembiayaan bagi rumah tangga dan pelaku usaha.

Meski demikian, keputusan RBA menghapus pernyataan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa siklus pengetatan moneter mungkin segera berakhir.

Baca Juga: Morgan Stanley Prediksi Koreksi Bursa Saham AS Segera Berakhir

Namun, tingginya biaya pinjaman masih menjadi tantangan bagi sektor-sektor yang bergantung pada belanja konsumen.

Tingginya biaya pinjaman masih menjadi tantangan bagi sektor konsumsi dan properti, meskipun pasar mulai melihat peluang berakhirnya siklus kenaikan suku bunga RBA.

Di sektor lainnya, saham pertambangan turun 0,2% akibat pelemahan harga tembaga. Saham perusahaan tambang besar seperti Rio Tinto, BHP, dan Fortescue masing-masing terkoreksi sekitar 1%.

Saham sektor kesehatan juga melemah 1,1%. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi salah satu penopang pasar dengan kenaikan 1,4%, mengikuti pemulihan indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi.

Saham energi naik tipis 0,3% setelah mengalami aksi jual tajam pada perdagangan sebelumnya. Penguatan ini terjadi meskipun harga minyak kembali melemah di tengah kekhawatiran bahwa serangan terbaru dapat mengganggu upaya mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Di luar Australia, indeks acuan Selandia Baru S&P/NZX 50 bergerak relatif stagnan di level 13.721,75.

Baca Juga: Saham Bank dan Energi Naik, Bursa Australia Sentuh Level Tertinggi 7 Pekan

Sementara itu, tingkat pengangguran Selandia Baru meningkat menjadi 5,7% pada kuartal III-2026. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2015.

Pelaku pasar global juga mencermati hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Demokrat berpeluang kembali menguasai DPR, sementara persaingan untuk kursi Senat masih berlangsung ketat.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×