kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Benarkah AS Terancam Gagal Bayar Utang?


Jumat, 28 April 2023 / 06:14 WIB
ILUSTRASI. Mata uang Dolar Amerika Serikat. Kegagalan Kongres AS untuk menaikkan plafon utang pemerintah akan berdampak terhadap gagal bayar utang AS.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Utang Amerika Serikat (AS) menggunung dan butuh utang baru nan jumbo untuk mengatasinya. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen memperingatkan kegagalan Kongres AS untuk menaikkan plafon utang pemerintah akan berdampak terhadap gagal bayar utang AS.

Yellen mengingatkan default akan memicu malapetaka ekonomi.

Tercatat, Utang AS mencapai US$ 31 triliun pada Oktober 2022, sedangkan per 31 Maret 2023 bertambah menjadi US$ 31,45 triliun.

Terkait hal itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, ancaman default dari pemerintah AS sebenarnya cukup beralasan. Sebab, terjadi peningkatan pengeluaran pemerintah seiring dengan peningkatan pengeluaran bunga akibat kebijakan suku bunga tinggi.

"Meskipun demikian, dengan kondisi perekonomian yang masih belum stabil akibat krisis Silicon Valley Bank (SVB), pemerintah AS diperkirakan masih menaikkan pagu utang," ucap dia kepada Kontan.co.id, Kamis (27/4).

Baca Juga: Isu AS Gagal Bayar Utang, Ekonom BSI: Tak Berdampak Signifikan ke Indonesia

Josua menganggap pernyataan Yellen mungkin merupakan bentuk kekhawatiran apabila utang pemerintah terus meningkat menjadi tidak terkendali.

Dia berpendapat pemerintah AS mungkin dapat menahan laju pertumbuhan utangnya melalui pemotongan belanja pemerintah. Ditambah dengan kondisi tingkat pengangguran yang cukup rendah, pemerintah AS seharusnya punya cukup ruang untuk melakukan kebijakan tersebut.

Adapun dampak kebijakan tersebut, yakni adanya kenaikan yield US Treasury (UST) yang secara tidak langsung turut mengangkat yield IDR bond di Indonesia.

"Alhasil, dampaknya lebih kepada potensi foreign outflow di pasar obligasi selama sentimen tersebut berada di pasar keuangan global. Adapun jumlah utang dan beban bunga pemerintah tidak terdampak, kecuali jika sentimen tersebut berlangsung cukup panjang," kata Josua.

Baca Juga: Menkeu AS: Default AS akan Menghasilkan Bencana Ekonomi dan Keuangan




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×