Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Di Amerika Serikat, menabung kini bukan lagi sekadar soal disiplin, melainkan soal kemampuan bertahan. Bagi mayoritas orang, dana darurat yang dulu dianggap sebagai pegangan kini terasa makin sulit diwujudkan. Biaya hidup yang terus naik, terutama untuk perbaikan rumah, kendaraan, hingga perawatan kesehatan, melaju lebih cepat daripada inflasi. Ini membuat banyak keluarga harus memutar otak saat pengeluaran tak terduga datang mengetuk.
KETIKA mobil tiba-tiba mogok, atap rumah bocor akibat badai, atau anggota keluarga harus dirawat di rumahsakit, tabungan seringkali tak cukup. Alhasil, banyak pekerja memilih jalan yang sebetulnya berat, yakni menarik dana dari tabungan pensiun. Data Fidelity Investments menunjukkan, pada akhir 2024, sekitar 5% pekerja telah mengambil penarikan dana darurat dari rekening pensiun. Angka ini meningkat tajam dibanding 2% pada 2018.
Penarikan dana ini memang terbebas dari denda jika dilakukan karena kondisi darurat keuangan, namun konsekuensinya tak ringan. Dana yang diambil tak bisa dikembalikan seperti pinjaman skema 401 (k). Artinya, tabungan hari tua menyusut, dan rencana pensiun pun bisa mundur beberapa tahun ke depan.
Tekanan finansial ini kian terasa di tengah inflasi yang masih tinggi sepanjang 2025. Laporan terbaru Federal Reserve mencatat, 13% orang dewasa di AS mengaku tak mampu membayar pengeluaran darurat sebesar US$ 400 dengan cara apa pun. Sementara itu, 37% lainnya harus mengandalkan utang atau menjual aset untuk menutup biaya tak terduga. Angka ini menunjukkan bantalan keuangan masyarakat semakin menipis.
Baca Juga: Presiden China Xi Jinping Akan Menjamu Presiden Korea Selatan Mulai Minggu (4/1/2026)
Salah satu sumber tekanan terbesar datang dari biaya perbaikan kendaraan. Sepanjang September 2025, biaya perawatan dan perbaikan mobil melonjak 7,7% dibandingkan setahun sebelumnya, jauh melampaui inflasi umum yang hanya 3%. Gangguan rantai pasok sejak pandemi Covid-19 membuat harga suku cadang membengkak, dan tarif impor atas baja, aluminium, serta komponen kendaraan diperkirakan akan kembali mendorong biaya naik.
Tekanan serupa juga terasa di sektor kesehatan. Biaya rawat inap rumahsakit kini hampir 25% lebih mahal dibandingkan lima tahun lalu. Dalam setahun terakhir saja, kenaikan biaya layanan rumahsakit tercatat hampir dua kali lipat.
Di sisi lain, manfaat program jaminan kesehatan pemerintah seperti Medicare dan Medicaid tak mampu mengejar inflasi. Akibatnya, pasien kesulitan membayar layanan kesehatan, sementara rumahsakit harus menutup kekurangan pembayaran yang nilainya mencapai miliaran dolar.
Biaya perbaikan rumah pun tak luput dari lonjakan. Bencana alam yang semakin sering dan merusak, memaksa pemilik rumah mengeluarkan biaya lebih besar. Para kontraktor mulai dari layanan pendingin udara, listrik, pipa, hingga atap mengaku terpaksa menaikkan tarif karena harga material meningkat. Dari Juli 2024 hingga Juli 2025, biaya rekonstruksi rumah naik 4,2%, mencakup bahan bangunan dan ongkos tenaga kerja.
Pada akhirnya, kisah sulitnya dana darurat ini bukan sekadar soal angka. Ini adalah gambaran bagaimana banyak keluarga Amerika hidup semakin dekat dengan batas finansial.
Baca Juga: Trump Mengancam Iran Atas Penindakan Protes Saat Kerusuhan Berkobar













