Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Israel mengumumkan telah melancarkan serangan pre-emptif terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang mendorong kawasan Timur Tengah ke dalam konfrontasi militer baru dan semakin menurunkan harapan atas solusi diplomatik terkait sengketa nuklir Teheran dengan Barat yang telah berlangsung lama.
New York Times, mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, melaporkan bahwa serangan AS terhadap Iran sedang berlangsung. Sumber lain kepada Reuters menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak berada di Teheran dan telah dipindahkan ke lokasi yang aman.
Serangan ini terjadi setelah Israel dan Iran terlibat dalam perang udara selama 12 hari pada Juni lalu, menyusul peringatan berulang dari AS dan Israel bahwa mereka akan menyerang lagi jika Iran melanjutkan program nuklir dan misil balistiknya.
“Negara Israel melancarkan serangan pre-emptif terhadap Iran untuk menghilangkan ancaman terhadap Negara Israel,” ujar Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Seorang pejabat pertahanan Israel menyatakan bahwa operasi ini telah direncanakan selama berbulan-bulan dengan koordinasi Washington, dan tanggal peluncurannya telah ditetapkan beberapa minggu sebelumnya.
Baca Juga: Netflix Mundur dari Bidding War Warner Bros, Saham Melonjak Hampir 14%
Media Iran melaporkan terdengar ledakan di Teheran pada Sabtu, sementara sirene berbunyi di seluruh Israel sekitar pukul 08:15 waktu setempat sebagai peringatan proaktif dari militer untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi kemungkinan serangan misil.
Militer Israel mengumumkan penutupan sekolah dan tempat kerja, dengan pengecualian untuk sektor penting, serta pelarangan penggunaan ruang udara publik. Israel menutup ruang udaranya untuk penerbangan sipil, dan otoritas bandara meminta masyarakat untuk tidak pergi ke bandara mana pun di negara tersebut.
AS dan Iran sebelumnya memperbarui negosiasi pada Februari untuk menyelesaikan sengketa yang telah berlangsung puluhan tahun melalui jalur diplomasi dan menghindari ancaman konfrontasi militer yang bisa mengguncang stabilitas regional.
Namun, Israel menekankan bahwa setiap kesepakatan AS dengan Iran harus mencakup pembongkaran infrastruktur nuklir Teheran, bukan hanya menghentikan proses pengayaan uranium, serta mendesak Washington untuk memasukkan pembatasan terhadap program misil Iran dalam pembicaraan.
Baca Juga: Ekspor Kedelai Brazil Terancam, Jutaan Ton Stok Tersendat di Pelabuhan
Iran menyatakan siap membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan pencabutan sanksi, tetapi menolak mengaitkan isu nuklir dengan program misil. Teheran juga menegaskan akan membela diri dari setiap serangan, serta memperingatkan negara tetangga yang menampung pasukan AS bahwa mereka akan menargetkan pangkalan Amerika jika Washington menyerang Iran.
Pada Juni lalu, AS bergabung dengan kampanye militer Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, menandai aksi militer Amerika paling langsung terhadap Republik Islam ini. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan misil ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, pangkalan terbesar di Timur Tengah.
Negara-negara Barat memperingatkan bahwa proyek misil balistik Iran mengancam stabilitas regional dan bisa membawa senjata nuklir jika dikembangkan. Teheran, bagaimanapun, membantah berupaya membuat bom atom.










