Reporter: Dessy Rosalina | Editor: Sanny Cicilia
NEW YORK. Lupakan predikat London dan New York sebagai kota yang identik dengan biaya hidup tinggi. Lihat saja survei terbaru firma konsultan Mercer.
Survei Cost of Living Rankings yang terbit, Rabu (22/6), menempatkan Hong Kong sebagai kota paling mahal di dunia. Yang mengejutkan, tahun ini London dan New York terpental dari peringkat 10 besar kota termahal di jagat raya.
Malahan, survei Mercer menyebutkan, kota termahal di dunia didominasi oleh kota di kawasan Asia dan Afrika. Ada lima kota besar di Asia dan tiga kota besar di Afrika yang masuk jajaran kota termahal.
Seberapa mahal biaya hidup di Hong Kong? Anda harus merogoh kocek duit US$ 6.809 atau setara Rp 85,11 juta (US$ = Rp 12.500) untuk menyewa satu unit apartemen dua kamar tanpa furnitur selama sebulan.
Contoh lain, meneguk secangkir kopi di Hong Kong bakal menguras dana US$ 7,8 atau setara Rp 97.500. "Survei ini mengacu pada biaya hidup standar layak bagi seorang pekerja ekspatriat ," ujar Mercer seperti dilansir BBC, kemarin.
Mercer memasukkan 200 komponen biaya hidup semisal transportasi, pakaian dan sebagainya. Hasil survei ini disusun berdasarkan data biaya hidup dari 209 kota besar di seluruh kolong langit.
Efek Brexit
Yang jelas, isu keluarnya Inggris dari lingkup Uni Eropa alias Brexit, membawa berkah bagi ekspatriat yang tinggal di sejumlah kota besar di Inggris. Mercer menyatakan, perubahan biaya hidup di sejumlah negara Eropa dan Afrika tahun ini banyak dipengaruhi oleh pasar mata uang yang volatil dan pertumbuhan ekonomi.
Misal, menurut Mercer, sewa bulanan untuk sebuah rumah dengan tiga kamar tidur dan perabotan yang layak bagi ekspatriat di Luanda senilai lebih dari £ 10.600. Angka ini lebih mahal ketimbang £ 5.000 di London.
Penyebabnya, isu Brexit telah membuat nilai tukar poundsterling terhadap dollar Amerika Serikat (AS) rontok. Itu sebabnya, biaya hidup di Inggris lebih terjangkau.
Mengutip The Guardian, Ellyn Karetnick, analis Mercer mengatakan, meskipun nilai tukar euro terbilang stabil terhadap dolar AS, poundsterling telah merosot tajam. Asal tahu saja, peringkat London sebagai kota mahal turun dari posisi 12 ke 17 di 2016.
Akibatnya, biaya hidup di ibukota Inggris itu sekarang lebih murah ketimbang New York, Beijing, Tokyo dan Zurich. Semua biaya hidup di sejumlah kota di Inggris Raya telah susut.
Selain London, peringkat biaya hidup di Birmingham dan Glasgow jatuh dari posisi tahun 2015 masing-masing di 16 dan 10 ke posisi 96 dan 119 di tahun ini. Sementara, stabilnya euro tidak melongsorkan biaya hidup di Swiss.
Sebelumnya, survei Economist Intelligence Unit (EIU) menempatkan Singapura sebagai kota paling mahal. Disusul Zurich, Hong Kong, Jenewa dan Paris.













