kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Paus Leo Pimpin Ibadah Jumat Agung, Pesan Keras untuk Pemimpin Dunia Menggema


Sabtu, 04 April 2026 / 09:40 WIB
Diperbarui Sabtu, 04 April 2026 / 09:43 WIB
Paus Leo Pimpin Ibadah Jumat Agung, Pesan Keras untuk Pemimpin Dunia Menggema
ILUSTRASI. Paus Leo, pemimpin Gereja Katolik, memimpin ibadah Jumat Agung di Colosseum. Pesan kuatnya tentang kekuasaan dan pertanggungjawaban menggema. (REUTERS/Remo Casilli)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Paus Leo memimpin ibadah dengan penerangan lilin bersama ribuan umat Katolik di dalam Colosseum yang terkenal di Roma pada Jumat malam. Ibadah tersebut menampilkan doa bagi anak-anak yatim korban perang dan anak-anak imigran yang dideportasi, serta peringatan kepada para pemimpin dunia bahwa keputusan mereka suatu hari akan diadili oleh Tuhan.

Melansir Reuters, Paus, yang belakangan muncul sebagai pengkritik vokal terhadap perang Iran, menyimak rangkaian meditasi rohani yang menyentuh hati yang dibacakan di dalam amfiteater kuno tersebut untuk memperingati Jumat Agung, hari ketika umat Kristiani mengenang wafatnya Yesus melalui penyaliban.

“Setiap orang yang memegang kekuasaan harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan bagaimana mereka menggunakan kekuasaan itu,” demikian bunyi meditasi pertama. “Kekuasaan untuk memulai atau mengakhiri perang; kekuasaan untuk menanamkan kekerasan atau perdamaian.”

Leo, Paus pertama asal Amerika Serikat dan pada usia 70 tahun tergolong pemimpin Gereja Katolik yang relatif muda, membawa sebuah salib kayu tinggi dalam prosesi tradisional yang dikenal sebagai Via Crucis (Jalan Salib). Prosesi ini mengenang 14 peristiwa terakhir dalam kehidupan Yesus, mulai dari dijatuhi hukuman mati hingga pemakamannya.

Paus berhenti di sejumlah titik di dalam Colosseum untuk mendengarkan pembacaan Alkitab, tulisan-tulisan Santo Fransiskus dari Assisi, serta meditasi rohani yang banyak menyoroti isu-isu keadilan sosial.

Baca Juga: Kendalikan Selat Hormuz: Senjata Iran Lebih Dahsyat dari Nuklir?

Teks-teks rohani tersebut ditulis oleh seorang pastor Italia yang dipilih Paus untuk tugas itu, namun tidak menyebut nama pemimpin dunia tertentu.

Ribuan umat Katolik yang mengikuti ibadah di dalam Colosseum maupun di jalan-jalan berbatu di sekitarnya, pada beberapa kesempatan turut memanjatkan doa bagi para pengungsi, korban perdagangan manusia, tahanan politik, serta “mereka yang telah meninggal di bawah reruntuhan” akibat berbagai konflik di dunia.

Mereka juga menyoroti anak-anak yang dipenjara selama aksi protes atau “dideportasi oleh kebijakan yang tanpa belas kasih”, tanpa menyebut negara tertentu.

Leo sebelumnya telah mengkritik kebijakan imigrasi keras Presiden AS Donald Trump, dan mempertanyakan apakah kebijakan tersebut sejalan dengan ajaran Gereja yang pro-kehidupan.

Tonton: Trump Ancam Keluar dari NATO! Aliansi Barat Retak Gara-Gara Perang Iran

Jumat Agung merupakan hari raya Katolik kedua dari empat perayaan yang mengarah menuju Minggu Paskah, ketika Leo akan menyampaikan berkat khusus dan pesan dari balkon Basilika Santo Petrus.

Sebagai salah satu agenda yang paling diperhatikan dalam kalender Vatikan, pidato Paskah biasanya menjadi momen ketika Paus menyampaikan seruan internasional besar.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×