kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   -32.000   -1,16%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Bos Rosneft: Penutupan Selat Hormuz Untungkan Perusahaan Energi AS


Sabtu, 06 Juni 2026 / 17:55 WIB
Bos Rosneft: Penutupan Selat Hormuz Untungkan Perusahaan Energi AS
ILUSTRASI. CEO Rosneft Igor Sechin menyebut perusahaan AS paling diuntungkan dari penutupan Selat Hormuz. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – ST. PETERSBURG. Kepala Eksekutif Rosneft, Igor Sechin, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan energi Amerika Serikat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari penutupan Selat Hormuz.

Namun, ia memperingatkan bahwa ketegangan berkepanjangan di jalur pelayaran strategis tersebut justru dapat melemahkan permintaan minyak dunia dalam jangka panjang.

Berbicara dalam St. Petersburg International Economic Forum pada Sabtu (6/6/2026), Sechin menilai langkah yang memicu penutupan Selat Hormuz telah mengubah dinamika pasar energi global dan memberikan keuntungan kompetitif bagi produsen energi Amerika Serikat.

Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah Iran memblokade jalur tersebut menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Februari. Di sisi lain, Amerika Serikat juga melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca Juga: AS Serang Fasilitas Radar Iran, Situasi di Selat Hormuz Semakin Tegang

Menurut Sechin, yang dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh di sektor energi Rusia, tindakan Washington merupakan upaya untuk membentuk ulang struktur dasar pasar energi global demi kepentingan Amerika Serikat.

AS Dinilai Mendapat Keuntungan Besar

Dalam pidatonya, Sechin mengatakan bahwa kebijakan penutupan Selat Hormuz justru membawa konsekuensi yang jauh melampaui target awalnya.

"Penutupan Selat Hormuz merupakan upaya untuk membentuk kembali aturan pasar energi global demi menguntungkan Amerika Serikat. Langkah-langkah yang diambil untuk memblokir selat tersebut ditujukan kepada Iran, tetapi justru berbalik merugikan seluruh dunia. Risiko strategisnya telah diremehkan," ujar Sechin.

Ia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika menjadi penerima manfaat utama dari kondisi tersebut.

"Pihak yang paling diuntungkan tentu saja adalah perusahaan-perusahaan Amerika, yang memperoleh keunggulan yang tidak kompetitif serta kemampuan untuk mengamankan pasokan berbiaya tinggi," kata Sechin. "Ketegangan yang terus berlangsung di Selat Hormuz dalam waktu lama akan melemahkan permintaan minyak dalam jangka panjang. Kondisi ini juga dapat memicu kembali lonjakan minat terhadap energi alternatif."

Saat ini, Amerika Serikat merupakan produsen minyak terbesar di dunia, disusul oleh Arab Saudi dan Rusia.

Baca Juga: Duta Besar AS: Taiwan Harus Belanja Pertahanan Lebih Cerdas

Di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, pendapatan pajak minyak dan gas Rusia yang menyumbang sekitar seperlima penerimaan anggaran negara melonjak 32,4% secara tahunan pada Mei menjadi 678,9 miliar rubel atau sekitar US$ 9,3 miliar.

Amerika Serikat juga memperpanjang pengecualian sanksi yang memungkinkan pembelian minyak Rusia yang diangkut melalui laut untuk membantu negara-negara yang rentan terhadap krisis energi akibat perang Iran.

China Dinilai Paling Siap Hadapi Krisis

Sechin menilai China merupakan negara yang paling siap menghadapi krisis tersebut berkat kebijakan pemerintah yang telah dirancang secara matang. Namun, ia mengingatkan bahwa jalur pelayaran strategis lain seperti Selat Malaka, Bab El Mandeb, dan Gibraltar juga berpotensi menghadapi gangguan serupa.

Menurut proyeksinya, apabila Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat, harga minyak diperkirakan berada di kisaran US$ 95 hingga US$ 96 per barel pada akhir tahun ini.

Selanjutnya, harga minyak diperkirakan turun ke kisaran US$ 80 hingga US$ 85 per barel dalam waktu satu tahun, sebelum kembali bergerak sesuai fundamental pasar pada paruh kedua 2027.

Peringatan Krisis Global yang Semakin Kompleks

Dalam pidato berjudul "Awal dari Akhir atau Akhir dari Awal: Apa yang Tersisa di Dasar Kotak Pandora?", Sechin juga memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi akumulasi berbagai persoalan besar, mulai dari militerisasi negara-negara besar, gelembung pasar keuangan terbesar sejak abad ke-19, hingga ancaman kekurangan listrik, pangan, dan air.

Baca Juga: USDA Temukan Kasus Kedua Ulat Sekrup pada Ternak di Texas

"Di dasar kotak itu, kita pada akhirnya akan menemukan kekurangan listrik secara global, kelangkaan pangan, kekurangan tembaga dan logam lainnya, serta krisis air," ujar Sechin.

Ia juga mengkritik perkembangan aliansi OPEC+, yang menurutnya telah kehilangan sebagian potensinya setelah Uni Emirat Arab keluar dari kelompok tersebut, menyusul langkah serupa yang sebelumnya diambil Qatar dan beberapa negara lain.

"Akibatnya, produksi aliansi tersebut telah turun dari 58 juta barel per hari menjadi 37 juta barel per hari selama 10 tahun terakhir," katanya.

Sechin menambahkan bahwa sebagian besar anggota utama OPEC+ justru meningkatkan produksi sejak kesepakatan aliansi dibentuk pada 2016. Sementara itu, produksi minyak Rusia turun sekitar 1,5 juta barel per hari.

"Ini merupakan penurunan sebesar 15% yang harus diimbangi melalui investasi yang diperlukan dengan nilai sedikitnya 10 triliun rubel. Kami berharap kerja sama investasi antara negara-negara anggota aliansi dan negara kami juga akan semakin berkembang," tutup Sechin.




TERBARU

[X]
×