Bulan di Planet Saturnus Hilang, Bersembunyi di Cincinnya?

Jumat, 16 September 2022 | 14:36 WIB Sumber: CNET
Bulan di Planet Saturnus Hilang, Bersembunyi di Cincinnya?

ILUSTRASI. Bulan di Planet Saturnus yang Hilang Mungkin Saja Bersembunyi di Cincinnya.

KONTAN.CO.ID - Bulan Saturnus yang hilang mungkin saja bersembunyi di cincinnya. Teori ini menjelaskan dua misteri lama tentang raksasa gas yang penampilannya di tata surya ini mencolok.

Satu dari delapan planet di tata surya, Saturnus adalah salah satu planet yang mudah dikenal. Sabuk atau cincin erat kaitannya dengan planet ke-6 terjauh dari Matahari ini.

Bicara tentang cincin Saturnus, baru-baru ini fakta menarik dari planet ini terungkap. Dikutip dari Cnet, sebuah teori baru menunjukkan, cincin itu terbentuk ketika satu bulan raksasa gas itu berada terlalu dekat dengan planet besar itu.

Bulan yang menjadi satelit alami ini nasibnya menjadi malang ketika terperangkap dalam medan gravitasi intens inangnya, yang kemudian benar-benar memisahkannya.

Bulan tersebut kemudian hancur, dan para ilmuwan percaya puing-puingnya telah membentuk banyak cincin yang menjadi ciri khas dari planet Saturnus.

Setidaknya itulah teori yang mencuat dari tim peneliti yang dipimpin oleh Jack Wisdom dari MIT, yang menjuluki bulan yang hilang sebagai Chrysalis.

Baca Juga: Mengenal Istilah Near-Earth Object (NEO), Benda Langit yang Berada di Sekitar Bumi

Planet Saturnus

Dia mengatakan, cerita ini juga membantu menjelaskan kemiringan yang tidak biasa dari sumbu Saturnus dan mengapa cincin itu diperkirakan beusia lebih dari 100 juta tahun, ketika Saturnus sendiri terbentuk lebih dari empat miliar tahun yang lalu.

Saturnus mengorbit Matahari dengan kemiringan lebih dari 26 derajat ke satu sisi, posisi yang bahkan lebih dramatis daripada kemiringan Bumi, yang bersosilasi antara 22,1 derajat dan 24,5 derajat.

Penjelasan yang paling mungkin untuk ini adalah bahwa kemiringan Saturnus berasal dari semacam gravitasi yang dilakukan planet ini dengan Neptunus.

Tetapi, Wisdom dan rekan-rekan peneliti dibantu oleh data dari pesawat luar angkasa Cassini NASA, menjalankan beberapa model baru yang menunjukkan Saturnus dan Neptunus pernah bergema di masa lalu.

Sesuatu berubah sekitar 160 juta tahun yang lalu. Dan itu pada dasarnya menghilangkan Saturnus dari pengaruh Neptunus.

Pemodelan tersebut dari sejumlah simulasi yang paling sesuai dengan semua data adalah contoh hipotesis di mana Saturnus kehilangan Bulan yang relatif besar.

Saat ini, sistem planet raksasa itu menampung 83 Bulan. Chrysalis akan berukuran lapetus, bulan terbesar ketiga Saturnus saat ini.

Ilmuwan dalam studi barunya berteori bahwa antara 200 dan 100 juta tahun yang lalu, bulan yang terlupakan mulai didorong oleh medan gravitasi Titan, satelit terbesar Saturnus.

Pada gilirannya, ini akan mengganggu orbit Chyrsalis, mengirimkannya ke jalur yang kacau hampir bertabrakan dengan Lapetus dan Titan.

Baca Juga: Planet Jupiter dan Bumi Akan Berdekatan Pada Bulan September, Disebut Fenomena Apa?

Dan pada akhirnya berdekatan dengan Saturnus itu sendiri.

Pertemuan seperti itu, kata para peneliti bisa saja menghancurkan bulan menjadi berkeping-keping, dengan sebagian besar sisa-sisanya mungkin dikonsumsi oleh Saturnus dan sebagian kecil membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai cincin-cincin megah itu.

Tampaknya ini adalah penjelasan yang sempurna, memecahkan dua misteri kosmik sekaligus, tetapi Wisdom memperingatkan bahwa itu tetap sebuah teori.

"Seperti hasil lainnya, itu harus diperiksa oleh orang lain," katanya, seraya menambahkan bahwa itu membuat cerita yang bagus untuk sementara ini.

"Sama seperti kepompong kupu-kupu, satelit ini lama tidak aktif dan tiba-tiba menjadi aktif, dan cincin-cincin itu muncul," ujar dia.

Itulah teori yang mengungkapkan bulan yang hilang dari Saturnus ini mungkin saja bersembunyi di cincinnya.

Editor: Arif Budianto

Terbaru