kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.028.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.814   -85,00   -0,50%
  • IDX 8.396   124,32   1,50%
  • KOMPAS100 1.183   18,77   1,61%
  • LQ45 848   12,48   1,49%
  • ISSI 300   4,67   1,58%
  • IDX30 445   8,19   1,88%
  • IDXHIDIV20 530   8,41   1,61%
  • IDX80 132   1,86   1,43%
  • IDXV30 145   1,60   1,12%
  • IDXQ30 143   2,42   1,73%

Bursa Australia Ditutup Turun Senin (23/2) di Tengah Kekhawatiran Tarif AS


Senin, 23 Februari 2026 / 16:24 WIB
Bursa Australia Ditutup Turun Senin (23/2) di Tengah Kekhawatiran Tarif AS
ILUSTRASI. Bursa Asia - Australia (Steven Saphore/AAP Image via Reuters)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia ditutup melemah pada Senin (23/2/2026) setelah ketidakpastian baru terkait kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) mengguncang sentimen investor.

Namun, saham-saham pertambangan justru menguat berkat aliran dana ke aset safe haven.

Melansir Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,6% ke 9.026 poin, setelah pekan lalu melonjak 1,8%.

Baca Juga: Korea Selatan dan Brasil Sepakat Memperluas Kerja Sama Sektor Mineral dan Perdagangan

Kenaikan tersebut didorong oleh musim laporan keuangan yang kuat, dengan indeks naik sekitar 2,4% sejak 11 Februari ketika periode pelaporan dimulai.

Pasar menghadapi ketidakjelasan setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif darurat Presiden Donald Trump.

Trump kemudian menggantinya dengan tarif global 10% sebelum menaikkannya menjadi 15%, tanpa rincian jelas mengenai waktu penerapan maupun cakupannya.

“Setiap berita soal Trump berarti volatilitas. Putusan Mahkamah Agung sudah diperhitungkan pasar, tetapi kini membuka peluang bagi Trump untuk mengumumkan angka tarif baru secara mendadak,” ujar Mark Gardener, CEO MPC Markets.

Meski demikian, ia menilai fundamental korporasi yang masih solid dan dukungan dari laba perusahaan dapat membatasi penurunan lebih lanjut.

“Kami melihat koreksi ini sebagai peluang beli, karena pasar berpotensi kembali ke rekor tertinggi setelah ketidakpastian mereda,” tambahnya.

Baca Juga: Uni Eropa Tidak Akan Menerima Kenaikan Tarif AS Pasca Putusan Mahkamah Agung

Mayoritas Sektor Melemah

Saham sektor keuangan turun 1,2%, dengan empat bank besar mencatat pelemahan antara 0,6% hingga 2,3%.

Perusahaan bioteknologi CSL Limited, yang sebagian besar pendapatannya berasal dari Amerika Serikat, merosot 3,8%, menyeret indeks kesehatan turun 2,4%.

Sektor teknologi anjlok 4,6%, sementara saham konsumer diskresioner dan properti masing-masing turun 1,8% dan 2,3%.

Sektor Tambang dan Emas Bersinar

Berbeda arah dengan mayoritas sektor, saham pertambangan naik 1,7% dan menyentuh level tertinggi dalam sepekan. Raksasa tambang BHP Group menguat 1,3%.

Saham emas melonjak 4,1% seiring meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai di tengah volatilitas pasar.

Baca Juga: Harga Emas Melonjak ke Level Tertinggi Tiga Minggu Ditopang Putusan Tarif AS

Penguatan sektor tambang dan emas mencerminkan rotasi investasi yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir, dari saham teknologi dan kesehatan yang relatif mahal menuju komoditas.

Sementara itu, indeks acuan Selandia Baru, S&P/NZX 50, naik 0,8% ke 13.420,43 poin.

Selanjutnya: Korea Selatan dan Brasil Sepakat Memperluas Kerja Sama Sektor Mineral dan Perdagangan

Menarik Dibaca: Harga Emas Dunia Lanjut Naik di atas US$ 5.100, Terpicu Tarif AS




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×