Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026), bahkan kembali turun ke bawah level psikologis 9.000.
Tekanan datang dari saham-saham pertambangan dan teknologi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi pengetatan regulasi investasi kecerdasan buatan (AI) dan pusat data di Amerika Serikat (AS).
Mengutip Reuters, indeks S&P/ASX 200 turun 0,8% ke level 8.994,50 pada pukul 23.46 GMT. Indeks acuan tersebut berada di jalur penurunan harian terbesar sejak 1 Oktober 2026.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 5,9% Sepekan, Pasar Menanti Data Payrolls AS
Padahal, pada perdagangan Kamis (5/11/2026), S&P/ASX 200 menguat 2,6% dan berhasil menembus level 9.000.
Sentimen pasar global memburuk setelah indeks Nasdaq mencatat penurunan harian terdalam sejak aksi jual pada April 2025 yang dikenal sebagai Liberation Day.
Investor kembali mengevaluasi valuasi saham-saham terkait AI serta prospek regulasi di bawah Kongres AS yang kini dikuasai Partai Demokrat.
Serangan terbaru terhadap kapal tanker juga mendorong kenaikan harga minyak, sehingga semakin menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Di bursa Sydney, saham-saham pertambangan diperkirakan mencatat kinerja terburuk sejak 19 Maret 2026 setelah sektor tersebut terkoreksi 4,4%. Pelemahan ini terjadi seiring harga tembaga yang turun setelah sebelumnya terdorong reli terkait optimisme investasi AI.
Baca Juga: Harry Kane Bertahan di Bayern hingga 2029, Gajinya Lampaui Mbappe?
Saham BHP, salah satu perusahaan tambang terbesar Australia yang semakin mengandalkan tembaga sebagai sumber laba dibandingkan bijih besi, anjlok 4,9%. Saham Rio Tinto turun 3,9%, sedangkan Fortescue melemah 2,9%.
Saham-saham perusahaan tambang emas juga terkoreksi 2,9%, meskipun harga emas dunia menguat. Sementara itu, sektor teknologi turun 2,6% dan saham properti melemah 1,3%.
Di tengah tekanan tersebut, sektor keuangan justru menguat 0,9% seiring peralihan investasi ke sektor yang dinilai lebih defensif. Saham empat bank besar Australia mencatat kenaikan antara 0,8% hingga 2,2%.
Namun, saham Macquarie Group justru turun hingga 5,7%, meskipun bank investasi tersebut melaporkan laba semester pertama tertinggi sepanjang sejarah.
Baca Juga: Ronaldo vs Messi di Timnas: Statistik Gol, Assist, Penampilan, dan Trofi
Secara terpisah, regulator prudensial Australia menyatakan telah menemukan kesalahan perhitungan yang dilakukan Macquarie pada 2019 terkait besaran modal yang diperlukan untuk menopang risiko dalam bisnis nonperbankannya.
Selain sektor keuangan, saham-saham kebutuhan pokok konsumen juga menguat 1,6%.
Sementara itu, di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 turun 0,9% ke level 13.965,94.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
